Hari Air Mata Indonesia Hari ini, 17 Juli mungkin menjadi hari paling banyak air mata ditumpahkan di Indonesia. Sebab hari ini adalah har...
Hari Air Mata Indonesia
Hari ini, 17 Juli mungkin menjadi hari paling banyak air mata ditumpahkan di Indonesia.
Sebab hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran & pergantian tahun ajaran.
Hampir 2 bulan libur tentu telah menciptakan bentuk-bentuk baru kenyamanan apakah itu berupa kebiasaan maupun kedekatan emosi antara ayah, ibu dan anak-anaknya.
Dan hari ini, semua bentuk kenyamanan itu harus ditinggalkan.
Ada rasa berat dan perih di hati ketika harus melepaskan itu semua.
Terlebih bagi mereka, ortu dan anak, yang memilih boarding school (sekolah asrama) sebagai jalan menuntut ilmu dan kemandirian.
Konsekuensi berpisah sampai entah kapan jelas menjadi alasan air mata untuk meleleh di pelupuk mata.
ahh...
Saya hampir tak sanggup menulis lagi karena saya adalah bagian dari mereka.
Yang saya yakini dari ujung semua ketidaknyamanan ini adalah buah kebaikan.
Karena bagi saya, kesuksesan seorang ayah bukan dinilai dari seberapa sanggup dia melayani semua kebutuhan anak-anaknya, melainkan seberapa sanggup dia mempersiapkan anak-anaknya memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa kehadirannya.
: : zie : :
wali murid
________
*) ini foto menarik ketika sy memasuki gerbang sekolah anak saya tentang pertanyaan:
"Apa yang kau cari disini?"
Semoga pencarian, usaha dan pengorbanan kita tidak sia-sia.
Aamiiin.
Percayalah... pedang yang tajam dan berkualitas bukan terbentuk oleh guyuran air hangat-hangat kuku, melainkan oleh tempaan besi dibarengi api yang panas membara.
Re-post dari FB Zie Trisaksono (https://www.facebook.com/fauzytrisaksono)
Hari ini, 17 Juli mungkin menjadi hari paling banyak air mata ditumpahkan di Indonesia.
Sebab hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran & pergantian tahun ajaran.
Hampir 2 bulan libur tentu telah menciptakan bentuk-bentuk baru kenyamanan apakah itu berupa kebiasaan maupun kedekatan emosi antara ayah, ibu dan anak-anaknya.
Dan hari ini, semua bentuk kenyamanan itu harus ditinggalkan.
Ada rasa berat dan perih di hati ketika harus melepaskan itu semua.
Terlebih bagi mereka, ortu dan anak, yang memilih boarding school (sekolah asrama) sebagai jalan menuntut ilmu dan kemandirian.
Konsekuensi berpisah sampai entah kapan jelas menjadi alasan air mata untuk meleleh di pelupuk mata.
ahh...
Saya hampir tak sanggup menulis lagi karena saya adalah bagian dari mereka.
Yang saya yakini dari ujung semua ketidaknyamanan ini adalah buah kebaikan.
Karena bagi saya, kesuksesan seorang ayah bukan dinilai dari seberapa sanggup dia melayani semua kebutuhan anak-anaknya, melainkan seberapa sanggup dia mempersiapkan anak-anaknya memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa kehadirannya.
: : zie : :
wali murid
________
*) ini foto menarik ketika sy memasuki gerbang sekolah anak saya tentang pertanyaan:
"Apa yang kau cari disini?"
Semoga pencarian, usaha dan pengorbanan kita tidak sia-sia.
Aamiiin.
Percayalah... pedang yang tajam dan berkualitas bukan terbentuk oleh guyuran air hangat-hangat kuku, melainkan oleh tempaan besi dibarengi api yang panas membara.
Re-post dari FB Zie Trisaksono (https://www.facebook.com/fauzytrisaksono)
Loading...
