Selamat jalan abahku, KH. Hasyim Muzadi Bagi saya pribadi, Kyai Hasyim Muzadi adalah abah/ayah ketiga, setelah ayah kandung dan ayah mert...
Selamat jalan abahku,
KH. Hasyim Muzadi
Bagi saya pribadi, Kyai Hasyim Muzadi adalah abah/ayah ketiga, setelah ayah kandung dan ayah mertua, tentunya.
Menjadi sekretaris pribadi merangkap ajudan beliau selama 10 tahun lebih (1999-2010) merupakan fase hidup cukup panjang yg sangat mempengaruhi cara pandang saya mengenai dunia dengan segala dinamikanya, sekaligus memberi pengalaman hidup yg penuh warna-warni.
Hampir tiada hari yg saya lalui bersama beliau berjalan tanpa cerita, nasehat, dan candaan bernas, di samping berbagai tugas atau aktivitas lainnya.
Sebuah anugerah Tuhan yg saya rasakan begitu luar biasa besar buat saya: menyerap ilmu dan pengalaman secara langsung, dekat, dan lama, dari seorang Kyai besar dengan sederet predikat yg pernah melekat dalam waktu yg bersamaan: Ketua Umum PBNU, Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars), Presiden WCRP (World Conference on Religion for Peace), Eminent Person - Rabithah 'Alam Islami, selain juga Pengasuh Pesantren Al-Hikam di Malang dan Depok, yg tetap setia dengan kederhanaan dan sikap egaliternya.
Selamat jalan Abah... Semoga Allah SWT senantiasa mendekap Abah dengan rahmat-Nya yg terindah. Saya akan berusaha ingat salah satu nasehat yg Abah sampaikan: "Hidup harus berkorban. Jangan malah mengorbankan orang lain. Tidak usah peduli omongan jelek orang tentang kita. Tugas kita adalah berjuang."
Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa adkhilhul jannata ma'al anbiyai wal mursalin, bi rahmatika ya arhamar rahimin...
Dari "anakmu" yg belum bisa berbakti
Re-post dari FB https://www.facebook.com/mghozialfatih
KH. Hasyim Muzadi
Bagi saya pribadi, Kyai Hasyim Muzadi adalah abah/ayah ketiga, setelah ayah kandung dan ayah mertua, tentunya.
Menjadi sekretaris pribadi merangkap ajudan beliau selama 10 tahun lebih (1999-2010) merupakan fase hidup cukup panjang yg sangat mempengaruhi cara pandang saya mengenai dunia dengan segala dinamikanya, sekaligus memberi pengalaman hidup yg penuh warna-warni.
Hampir tiada hari yg saya lalui bersama beliau berjalan tanpa cerita, nasehat, dan candaan bernas, di samping berbagai tugas atau aktivitas lainnya.
Sebuah anugerah Tuhan yg saya rasakan begitu luar biasa besar buat saya: menyerap ilmu dan pengalaman secara langsung, dekat, dan lama, dari seorang Kyai besar dengan sederet predikat yg pernah melekat dalam waktu yg bersamaan: Ketua Umum PBNU, Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars), Presiden WCRP (World Conference on Religion for Peace), Eminent Person - Rabithah 'Alam Islami, selain juga Pengasuh Pesantren Al-Hikam di Malang dan Depok, yg tetap setia dengan kederhanaan dan sikap egaliternya.
Selamat jalan Abah... Semoga Allah SWT senantiasa mendekap Abah dengan rahmat-Nya yg terindah. Saya akan berusaha ingat salah satu nasehat yg Abah sampaikan: "Hidup harus berkorban. Jangan malah mengorbankan orang lain. Tidak usah peduli omongan jelek orang tentang kita. Tugas kita adalah berjuang."
Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa adkhilhul jannata ma'al anbiyai wal mursalin, bi rahmatika ya arhamar rahimin...
Dari "anakmu" yg belum bisa berbakti
Re-post dari FB https://www.facebook.com/mghozialfatih
Loading...
