PAK MARC DAN ROHMATAN LIL ALAMIN Entah mengapa sore hari yang gerimis ini saya tiba-tiba ingin memposting sebuah balasan WA nun jauh dari...
PAK MARC DAN ROHMATAN LIL ALAMIN
Entah mengapa sore hari yang gerimis ini saya tiba-tiba ingin memposting sebuah balasan WA nun jauh dari Brussels dari atasan saya dulu ketika bekerja di Komisi Eropa. Namanya pak Marc BOGDANOWICZ.
Sebagai nahdhiyyin sedari kecil, saya insya Allah selalu berusaha untuk mempraktekkan nilai-nilai dari kitab ta’limul mutaalim kepada semua guru, professor atau senior saya di kantor. Bagi saya semua adalah alim pada bidang dan keahlian masing-masing yang kita bisa belajar meskipun mungkin kita berbeda keyakinan.
Dengan pak Marc hubungan saya seperti Bapak dan anak pada hubungan personal dan mutual respect pada hubungan profesional. Jadilah kami sering bercanda bahkan joke joke tentang ras dan agama yang mungkin dengan orang lain terasa sensitif :)…Sering kali beliau “tease” saya dengan jenaka. Tiba-tiba datang ke ruangan memakai kaos “God is busy ask Google!” :D Kemudian memancing saya : "bagaimana pendapatmu tentang ini?" :D
Beliau tahu saya orang Islam konservatif yang pertanyaan pertama ketika negosiasi kontrak kerja :”bisakah saya sholat di kantor dan sholat Jumat!”. Hal yang bahkan saya sendiri lupa saya pernah mengatakan itu dan beliau ulang ketika memberikan kata sambutan acara pamitan saya keluar dari kantor. Beliau sangat terkesan...
Pada orang seperti ini dan banyak orang saya kenal juga seperti beliau, mereka paham peranan media mainstream dalam membuat frame. Beliau sadar itu! Dari pengalaman saya (yang terbatas) hanya 8 tahun di Eropa, saya tahu bahwa orang-orang yang relatif well educated akan memilih menghubungi kita langsung daripada percaya begitu saja kepada media tentang sebuah peristiwa. 411, 212 saya mendapatkan pertanyaan yang sama: "whats happening?" Sebuah hal yang harus kita syukuri karena kemudian kita memiliki kesempatan untuk bisa menjadi corong mengabarkan hal yang terjadi di negeri ini.
Sebagai minoritas, lebih dari 1000 hari bekerja di Komisi Eropa tidak pernah sekalipun saya terhalang untuk bisa sholat di ruang kantor atau sholat Jumat di mesjid . Saya ingat, ketika suatu waktu international seminar yang capek capek sudah kita persiapkan selama satu tahun: BATAL(!!!) akibat bom Brussels, secepat kilat kita melakukan rapat koordinasi. Saya menangkap beliau sangat berhati-hati sekali agar setiap kalimat yang keluar tidak menyinggung saya sebagai satu-satunya Muslim di sana.
Harapan saya:
Semoga dengan 212 kemarin juga menjadi momment untuk kita berlembut hati dengan sesama menyambung ukhuwah Islamiyah dan terlebih juga berlembut hati dengan pemeluk agama lain. Ingat : Nun jauh di sana banyak Muslim yang juga merasakan kelembutan dari umat beragama lain. Dan kadang, reciprocity, tidak dikabarkan oleh media mainstream berbasis agama di Indonesia.
Semoga juga 212 melecut semua Muslim yang mendapatkan amanah menjadi pemimpin di setiap level menjadikan ini sebagai momentum untuk menunjukkan diri sebagai pemimpin yang adil yang bisa memberi contoh kebaikan dan kearifan kepada semuanya. Kami sangat rindu!
Re-post Dari FB https://www.facebook.com/ibrahim.rohman


Entah mengapa sore hari yang gerimis ini saya tiba-tiba ingin memposting sebuah balasan WA nun jauh dari Brussels dari atasan saya dulu ketika bekerja di Komisi Eropa. Namanya pak Marc BOGDANOWICZ.
Sebagai nahdhiyyin sedari kecil, saya insya Allah selalu berusaha untuk mempraktekkan nilai-nilai dari kitab ta’limul mutaalim kepada semua guru, professor atau senior saya di kantor. Bagi saya semua adalah alim pada bidang dan keahlian masing-masing yang kita bisa belajar meskipun mungkin kita berbeda keyakinan.
Dengan pak Marc hubungan saya seperti Bapak dan anak pada hubungan personal dan mutual respect pada hubungan profesional. Jadilah kami sering bercanda bahkan joke joke tentang ras dan agama yang mungkin dengan orang lain terasa sensitif :)…Sering kali beliau “tease” saya dengan jenaka. Tiba-tiba datang ke ruangan memakai kaos “God is busy ask Google!” :D Kemudian memancing saya : "bagaimana pendapatmu tentang ini?" :D
Beliau tahu saya orang Islam konservatif yang pertanyaan pertama ketika negosiasi kontrak kerja :”bisakah saya sholat di kantor dan sholat Jumat!”. Hal yang bahkan saya sendiri lupa saya pernah mengatakan itu dan beliau ulang ketika memberikan kata sambutan acara pamitan saya keluar dari kantor. Beliau sangat terkesan...
Pada orang seperti ini dan banyak orang saya kenal juga seperti beliau, mereka paham peranan media mainstream dalam membuat frame. Beliau sadar itu! Dari pengalaman saya (yang terbatas) hanya 8 tahun di Eropa, saya tahu bahwa orang-orang yang relatif well educated akan memilih menghubungi kita langsung daripada percaya begitu saja kepada media tentang sebuah peristiwa. 411, 212 saya mendapatkan pertanyaan yang sama: "whats happening?" Sebuah hal yang harus kita syukuri karena kemudian kita memiliki kesempatan untuk bisa menjadi corong mengabarkan hal yang terjadi di negeri ini.
Sebagai minoritas, lebih dari 1000 hari bekerja di Komisi Eropa tidak pernah sekalipun saya terhalang untuk bisa sholat di ruang kantor atau sholat Jumat di mesjid . Saya ingat, ketika suatu waktu international seminar yang capek capek sudah kita persiapkan selama satu tahun: BATAL(!!!) akibat bom Brussels, secepat kilat kita melakukan rapat koordinasi. Saya menangkap beliau sangat berhati-hati sekali agar setiap kalimat yang keluar tidak menyinggung saya sebagai satu-satunya Muslim di sana.
Harapan saya:
Semoga dengan 212 kemarin juga menjadi momment untuk kita berlembut hati dengan sesama menyambung ukhuwah Islamiyah dan terlebih juga berlembut hati dengan pemeluk agama lain. Ingat : Nun jauh di sana banyak Muslim yang juga merasakan kelembutan dari umat beragama lain. Dan kadang, reciprocity, tidak dikabarkan oleh media mainstream berbasis agama di Indonesia.
Semoga juga 212 melecut semua Muslim yang mendapatkan amanah menjadi pemimpin di setiap level menjadikan ini sebagai momentum untuk menunjukkan diri sebagai pemimpin yang adil yang bisa memberi contoh kebaikan dan kearifan kepada semuanya. Kami sangat rindu!
Re-post Dari FB https://www.facebook.com/ibrahim.rohman


Loading...