Ahok dan Irasionalitas Kita. Semakin sering kita bahas Ahok, rupanya semakin irasional kita. Mari kita bahas yang lain aja, misalnya ken...
Ahok dan Irasionalitas Kita.
Semakin sering kita bahas Ahok, rupanya semakin irasional kita.
Mari kita bahas yang lain aja, misalnya kenapa kue yang terbuat dari singkong populasinya semakin turun, dan karena itu, dari sudut pandang morfologi, produktivitas pemakaian kosakatanya turun juga. Mungkin, lama-lama bisa punah juga.
Menurut saya orang-orang Betawi harus mulai berpikir bahwa turunnya produktivitas kosakata makanan dari singkong ini adalah penjajahan yang sistematik. Bayangkan, kalo kata cemon dan gengsot hilang, maka satu atau dua unsur dalam kebudayaan kita hilang. Hilanglah pula pengetahuan kita tentang bagaimana cara membuat dua makanan itu. Itu, dua makanan itu, kehilangan peluang juga untuk dipatenkan sebagaimana tempe.
Coba pikirkan ini.
Bagaimana kita bisa menjajah Barat lewat soft diplomacy, yang salah satunya adalah politik makanan, kalau di sini aja makanan kita kalah saing lawan makanan impor? Orang Betawi harus melawan. Pada pembelaan terhadap kata semacam gethuk dkk itu terdapat nilai pemberdayaan umat, karena secara tidak langsung memberdayakan ekonomi kelas bawah. Ini islami banget, karena Islam itu memberdayakan mustadh'afiin.
Tuan-tuan yang dirahmati Allah.
Terlalu ngurusi Ahok itu lahut, melenakan, sama kayak denger musik pop. Beritanya direproduksi setiap hari, itu itu aja dan untuk memupuk rasa yang itu itu juga. Kita sangka, dengan dukung dia atau tolak dia, kita sedang berjuang. Tapi, Saudaraku, percayalah! Selain teriakan kita itu membentur ruang kosong belaka, kita sebenarnya sedang membuang waktu. Ada banyak pekerjaan lain yang jauh lebih manfaat, misalnya ngaji, baca buku, main gitar, dan juga cari jodoh.
Sama kayak reproduksi berita artis sinetron dan musisi pop, fungsi reproduksi berita Ahok ini membenamkan kita ke dalam semacam kesadaran palsu. Bagi pembencinya, berita negatif tentang Ahok berfungsi sama seperti obrolan ibu-ibu di hadapan tukang sayur dorong mengenai tokoh antagonis dalam sinetron kesayangan mereka. Bagi pemujanya, berita positif soal Ahok juga berfungsi sama. Bedanya, Ahok bagi mereka ini tokoh protagonis. Intinya dasar epistemik dari kelakuan berlebihan para pencinta dan pembenci Ahok ini sebetulnya sama aja: mereka mengalami Ahok sebagaimana mereka mengalami tokoh fiksi. Apa yang rasional dari kelakuan kayak gini? Hehehehe ...
Marilah kita bahas yang lain, agar lebih banyak yang bisa kita tukar selain tengkar.
Tambahan edit: aslinya ini komentar di status Abu Mubirah, diposting jadi status atas permintaan Okan Darsyah.
Re-post dari FB https://www.facebook.com/makyun.subuki.mhum

Semakin sering kita bahas Ahok, rupanya semakin irasional kita.
Mari kita bahas yang lain aja, misalnya kenapa kue yang terbuat dari singkong populasinya semakin turun, dan karena itu, dari sudut pandang morfologi, produktivitas pemakaian kosakatanya turun juga. Mungkin, lama-lama bisa punah juga.
Menurut saya orang-orang Betawi harus mulai berpikir bahwa turunnya produktivitas kosakata makanan dari singkong ini adalah penjajahan yang sistematik. Bayangkan, kalo kata cemon dan gengsot hilang, maka satu atau dua unsur dalam kebudayaan kita hilang. Hilanglah pula pengetahuan kita tentang bagaimana cara membuat dua makanan itu. Itu, dua makanan itu, kehilangan peluang juga untuk dipatenkan sebagaimana tempe.
Coba pikirkan ini.
Bagaimana kita bisa menjajah Barat lewat soft diplomacy, yang salah satunya adalah politik makanan, kalau di sini aja makanan kita kalah saing lawan makanan impor? Orang Betawi harus melawan. Pada pembelaan terhadap kata semacam gethuk dkk itu terdapat nilai pemberdayaan umat, karena secara tidak langsung memberdayakan ekonomi kelas bawah. Ini islami banget, karena Islam itu memberdayakan mustadh'afiin.
Tuan-tuan yang dirahmati Allah.
Terlalu ngurusi Ahok itu lahut, melenakan, sama kayak denger musik pop. Beritanya direproduksi setiap hari, itu itu aja dan untuk memupuk rasa yang itu itu juga. Kita sangka, dengan dukung dia atau tolak dia, kita sedang berjuang. Tapi, Saudaraku, percayalah! Selain teriakan kita itu membentur ruang kosong belaka, kita sebenarnya sedang membuang waktu. Ada banyak pekerjaan lain yang jauh lebih manfaat, misalnya ngaji, baca buku, main gitar, dan juga cari jodoh.
Sama kayak reproduksi berita artis sinetron dan musisi pop, fungsi reproduksi berita Ahok ini membenamkan kita ke dalam semacam kesadaran palsu. Bagi pembencinya, berita negatif tentang Ahok berfungsi sama seperti obrolan ibu-ibu di hadapan tukang sayur dorong mengenai tokoh antagonis dalam sinetron kesayangan mereka. Bagi pemujanya, berita positif soal Ahok juga berfungsi sama. Bedanya, Ahok bagi mereka ini tokoh protagonis. Intinya dasar epistemik dari kelakuan berlebihan para pencinta dan pembenci Ahok ini sebetulnya sama aja: mereka mengalami Ahok sebagaimana mereka mengalami tokoh fiksi. Apa yang rasional dari kelakuan kayak gini? Hehehehe ...
Marilah kita bahas yang lain, agar lebih banyak yang bisa kita tukar selain tengkar.
Tambahan edit: aslinya ini komentar di status Abu Mubirah, diposting jadi status atas permintaan Okan Darsyah.
Re-post dari FB https://www.facebook.com/makyun.subuki.mhum

posted from Bloggeroid
Loading...