KH. Ahmad Marzuqi Zahid (Pengasuh PP. Langitan 1971-2000) Kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan setelah wafatnya KH. Abdul Hadi Zahid d...
KH. Ahmad Marzuqi Zahid
(Pengasuh PP. Langitan 1971-2000)
Kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan
setelah wafatnya KH. Abdul Hadi Zahid diamanatkan kepada KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama dengan KH. Abdullah Faqih.
Ahmad Marzuqi Zahid dilahirkan di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada Hari Kamis pon tanggal 22 Jumadal Ula 1327 H. yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 1909 M. Beliau adalah putra ke sembilan KH. Zahid dan Nyai ‘Alimah dari sebelas bersaudara.
Adapun kesebelas putra-putri KH. Zahid adalah :
(1. KH. Abdul Hadi
(2. Mutmainnah
(3. Tashrifah
(4. Zainab
(5. KH. Muhammad Rofii (ayahanda KH. Abdullah Faqih)
(6. Musfi’ah
(7. ‘Aisyah
(8. Musta’inah (meninggal usia muda)
(9. KH. Ahmad Marzuqi
(10. Hindun
(11. Maryam (meninggal ketika masih kecil)
Sejak masa balita beliau bersama saudara-saudaranya telah hidup dalam suasana relegius di bawah bimbingan ayahnya sendiri.
Ketika berusia sepuluh tahun, beliau mulai menimba pengetahuan agama di Pondok Pesantren Langitan di bawah asuhan KH. Abdul Hadi Zahid yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Selama puluhan tahun beliau memperdalam dan meningkatkan kemampuan intelektualnya dalam semua disiplin ilmu agama dengan tekun dan sabar. Selain belajar di Pondok Pesantren Langitan beliau juga kadangkala mengikuti pengajian secara temporal (pasanan) di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah bimbingan ulama besar, Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari. Selain itu beliau juga pernah mendalami ilmu seni kaligrafi kepada KH. Basuni, Blitar Jawa Timur.
Karena kapabilitas dan kredibilitasnya yang mumpuni dalam bidang pengetahuan agama, beliau mendapat amanat dari KH. Abdul Hadi Zahid untuk menjadi pengajar di Pondok Pesantren Langitan. Selain penguasaan ilmu agama yang luas beliau juga mempunyai banyak pengetahuan tentang dasar managemen organisasi sehingga pada tahun 1944 M. beliau mendapat kepercayaan menjadi lurah pondok (sekarang populer dengan sebutan Ro’is Am). Tugas-tugas mulia itu dilaksanakannya dengan penuh ketekunan, kesabaran dan konsisten, sampai pada akhirnya ketika berusia 36 tahun beliau dijodohkan dengan Ning Halimah putri KH. Zaini Pambon Brondong Lamongan (putra menantu KH. Muhammad Khozin Langitan).
Pada tahun 1949 M. beliau memperoleh amanat menjadi Kepala Madrasah Al Falahiyah ketika sedang dirintisnya pengajaran klasikal (madrasiyah) semasa kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid. Berkat SDM dan olah menejerial yang mumpuni, beliau berhasil membawa Madrasah Al Falahiyah menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas dan progresif. Selain aktif dalam dunia pendidikan yang sudah menyatu dengan jiwa dan karakternya, beliau juga pernah berkiprah dan berperan dalam dunia perpolitikan dengan menjadi anggota DPR Kabupaten Tuban hasil pemilu tahun 1955 dengan membawa bendera Nahdlotul Ulama (NU).
Cita-cita dan harapan para pengasuh pendahulu Pondok Pesantren Langitan diterjemahkan dengan baik dan penuh kearifan oleh KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama KH. Abdullah Faqih. Kerjasama yang sinergis antar keduanya dalam memimpin roda kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan telah banyak membuahkan hasil yang signifikan. Seperti kebijakan baru di bidang pendidikan dan ketrampilan berupa pelajaran Manhaj Tadris, pembentukan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, administrasi dan manajemen, diklat jurnalistik, pertanian dan peternakan, pendirian Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Peldidikan Al Quran (TPQ), dan lain- lain
Di bidang dakwah mengadakan pengajian umum mingguan dan pengiriman dai ke berbagai daerah sekitar dan luar jawa. Di bidang perekonomian mendirikan Badan Usaha Milik Pondok (BUMP) barupa Toko Induk, toko pondok, kantin sayur dan wartel An Nur. Kebijakan-kebijakan baru tersebut diilhami oleh sebuah kaidah
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Keberhasilan ayah dari sembilan putra ini dalam mengemban dan menjalankan semua aktifitasnya khususnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Langitan tidak lepas dari jasa seorang wanita yang memiliki nilai istimewa di sisinya yaitu Nyai Halimah yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan telah mencurahkan segala pengorbanannya dalam mendampingi dan mengabdikan dirinya membantu tugas-tugas sang suami baik dalam suka maupun duka. Beliau bersama Nyai Halimah dikaruniai sembilan putra-putri yaitu:
1. Ning Khalifah (meninggal dalam usia muda)
2. Nyai Hj. Muflihah (istri KH. Dimyati Romly, Jombang)
3. KH. Abdullah Munif (Beristrikan Nyai Hj. Qurratul Ishaqiyyah, Surabaya)
4. Nyai Hj. Faizah (istri KH. Sholeh Badawi, Langitan)
5. KH. Muhammad Ali (beristrikan Nyai Hj. ‘Aisyah, Surabaya)
6. Nyai Hj. Mahmudah (Istri KH. Basthomi, Nganjuk)
7. Ning Nihayatus Sa’adah (istri Prof. Dr. H. Abdul A’la Bashir, Sumenep)
8. Ning Shofiyah (istri Drs. Jeje. Abdul Razaq, M. Ag Sumedang)
9. Ning Masrurah (istri KH. Miftahul Munir, Langitan)
Beliau adalah seorang ulama yang sangat mencintai lingkungan, sangat peduli dengan semua mahluk gusti Allah, beliau rela menggeser letak sebuah bangunan demi menyelamatkan sebuah pohon yang sdh ada di tanah tsb sebelumnya, dan setiap memakan buah yang ada bijinya, beliau selalu menyimpan biji biji tsb dan akan menanamnya jika sudah ada kesempatan. Beliau juga pernah mengingatkan santrinya yang memaku atau menyayat pohon, dan mengatakan bahwa itu menyakitinya...
Diantara dawuh beliau yang luar biasa adalah dawuh beliau pada hodam beliau yang sedang mengusir burung di sawah beliau: "ojok mbok gusai makhluqe Allah iku, tapi ngomongo, pangan panganen tapi isehono yooo..
(Jangan diusir mahluk gusti Allah itu, tapi bilang saja, silakan makan, tapi sisakan (untukku) ya...)
Waktu terus berjalan, sesuai dengan kehendak-Nya. Bumi Langitan terselimuti oleh kabut duka ketika ajal menyapa. Hari itu, Sabtu, 21 Rabi’ul Awwal 1421 H. atau bertepatan dengan tanggal 24 Juni 2000 M. KH. Ahmad Marzuqi Zahid berpulang ke sisi Rabbnya pada umur 91 tahun, setelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan selama kurang lebih 29 tahun (1971 -2000 M.)
Sumber FB M Afifudin Dimyathi (Pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Darul Ulum Jombang)

(Pengasuh PP. Langitan 1971-2000)
Kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan
setelah wafatnya KH. Abdul Hadi Zahid diamanatkan kepada KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama dengan KH. Abdullah Faqih.
Ahmad Marzuqi Zahid dilahirkan di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada Hari Kamis pon tanggal 22 Jumadal Ula 1327 H. yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 1909 M. Beliau adalah putra ke sembilan KH. Zahid dan Nyai ‘Alimah dari sebelas bersaudara.
Adapun kesebelas putra-putri KH. Zahid adalah :
(1. KH. Abdul Hadi
(2. Mutmainnah
(3. Tashrifah
(4. Zainab
(5. KH. Muhammad Rofii (ayahanda KH. Abdullah Faqih)
(6. Musfi’ah
(7. ‘Aisyah
(8. Musta’inah (meninggal usia muda)
(9. KH. Ahmad Marzuqi
(10. Hindun
(11. Maryam (meninggal ketika masih kecil)
Sejak masa balita beliau bersama saudara-saudaranya telah hidup dalam suasana relegius di bawah bimbingan ayahnya sendiri.
Ketika berusia sepuluh tahun, beliau mulai menimba pengetahuan agama di Pondok Pesantren Langitan di bawah asuhan KH. Abdul Hadi Zahid yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Selama puluhan tahun beliau memperdalam dan meningkatkan kemampuan intelektualnya dalam semua disiplin ilmu agama dengan tekun dan sabar. Selain belajar di Pondok Pesantren Langitan beliau juga kadangkala mengikuti pengajian secara temporal (pasanan) di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah bimbingan ulama besar, Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari. Selain itu beliau juga pernah mendalami ilmu seni kaligrafi kepada KH. Basuni, Blitar Jawa Timur.
Karena kapabilitas dan kredibilitasnya yang mumpuni dalam bidang pengetahuan agama, beliau mendapat amanat dari KH. Abdul Hadi Zahid untuk menjadi pengajar di Pondok Pesantren Langitan. Selain penguasaan ilmu agama yang luas beliau juga mempunyai banyak pengetahuan tentang dasar managemen organisasi sehingga pada tahun 1944 M. beliau mendapat kepercayaan menjadi lurah pondok (sekarang populer dengan sebutan Ro’is Am). Tugas-tugas mulia itu dilaksanakannya dengan penuh ketekunan, kesabaran dan konsisten, sampai pada akhirnya ketika berusia 36 tahun beliau dijodohkan dengan Ning Halimah putri KH. Zaini Pambon Brondong Lamongan (putra menantu KH. Muhammad Khozin Langitan).
Pada tahun 1949 M. beliau memperoleh amanat menjadi Kepala Madrasah Al Falahiyah ketika sedang dirintisnya pengajaran klasikal (madrasiyah) semasa kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid. Berkat SDM dan olah menejerial yang mumpuni, beliau berhasil membawa Madrasah Al Falahiyah menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas dan progresif. Selain aktif dalam dunia pendidikan yang sudah menyatu dengan jiwa dan karakternya, beliau juga pernah berkiprah dan berperan dalam dunia perpolitikan dengan menjadi anggota DPR Kabupaten Tuban hasil pemilu tahun 1955 dengan membawa bendera Nahdlotul Ulama (NU).
Cita-cita dan harapan para pengasuh pendahulu Pondok Pesantren Langitan diterjemahkan dengan baik dan penuh kearifan oleh KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama KH. Abdullah Faqih. Kerjasama yang sinergis antar keduanya dalam memimpin roda kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan telah banyak membuahkan hasil yang signifikan. Seperti kebijakan baru di bidang pendidikan dan ketrampilan berupa pelajaran Manhaj Tadris, pembentukan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, administrasi dan manajemen, diklat jurnalistik, pertanian dan peternakan, pendirian Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Peldidikan Al Quran (TPQ), dan lain- lain
Di bidang dakwah mengadakan pengajian umum mingguan dan pengiriman dai ke berbagai daerah sekitar dan luar jawa. Di bidang perekonomian mendirikan Badan Usaha Milik Pondok (BUMP) barupa Toko Induk, toko pondok, kantin sayur dan wartel An Nur. Kebijakan-kebijakan baru tersebut diilhami oleh sebuah kaidah
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Keberhasilan ayah dari sembilan putra ini dalam mengemban dan menjalankan semua aktifitasnya khususnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Langitan tidak lepas dari jasa seorang wanita yang memiliki nilai istimewa di sisinya yaitu Nyai Halimah yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan telah mencurahkan segala pengorbanannya dalam mendampingi dan mengabdikan dirinya membantu tugas-tugas sang suami baik dalam suka maupun duka. Beliau bersama Nyai Halimah dikaruniai sembilan putra-putri yaitu:
1. Ning Khalifah (meninggal dalam usia muda)
2. Nyai Hj. Muflihah (istri KH. Dimyati Romly, Jombang)
3. KH. Abdullah Munif (Beristrikan Nyai Hj. Qurratul Ishaqiyyah, Surabaya)
4. Nyai Hj. Faizah (istri KH. Sholeh Badawi, Langitan)
5. KH. Muhammad Ali (beristrikan Nyai Hj. ‘Aisyah, Surabaya)
6. Nyai Hj. Mahmudah (Istri KH. Basthomi, Nganjuk)
7. Ning Nihayatus Sa’adah (istri Prof. Dr. H. Abdul A’la Bashir, Sumenep)
8. Ning Shofiyah (istri Drs. Jeje. Abdul Razaq, M. Ag Sumedang)
9. Ning Masrurah (istri KH. Miftahul Munir, Langitan)
Beliau adalah seorang ulama yang sangat mencintai lingkungan, sangat peduli dengan semua mahluk gusti Allah, beliau rela menggeser letak sebuah bangunan demi menyelamatkan sebuah pohon yang sdh ada di tanah tsb sebelumnya, dan setiap memakan buah yang ada bijinya, beliau selalu menyimpan biji biji tsb dan akan menanamnya jika sudah ada kesempatan. Beliau juga pernah mengingatkan santrinya yang memaku atau menyayat pohon, dan mengatakan bahwa itu menyakitinya...
Diantara dawuh beliau yang luar biasa adalah dawuh beliau pada hodam beliau yang sedang mengusir burung di sawah beliau: "ojok mbok gusai makhluqe Allah iku, tapi ngomongo, pangan panganen tapi isehono yooo..
(Jangan diusir mahluk gusti Allah itu, tapi bilang saja, silakan makan, tapi sisakan (untukku) ya...)
Waktu terus berjalan, sesuai dengan kehendak-Nya. Bumi Langitan terselimuti oleh kabut duka ketika ajal menyapa. Hari itu, Sabtu, 21 Rabi’ul Awwal 1421 H. atau bertepatan dengan tanggal 24 Juni 2000 M. KH. Ahmad Marzuqi Zahid berpulang ke sisi Rabbnya pada umur 91 tahun, setelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan selama kurang lebih 29 tahun (1971 -2000 M.)
Sumber FB M Afifudin Dimyathi (Pengasuh Ponpes Hidayatul Quran Darul Ulum Jombang)

Loading...