S A N T R I - Kata 'santri' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang b...
S A N T R I - Kata 'santri' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh); (3)Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.
Namun demikian masih terdapat berbagai pendapat dan definisi yang cukup beragam, meski sebenarnya mengacu pada arti yang sangat dekat, dari definisi yang bersifat sedehana dan subjektif bahkan cenderung asal-asalan hingga yang mendasarkannya pada makna empirik kesejarahan.
Misalnya ada pendapat yang mengatakan makna santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu "sun" dan "three" yang artinya tiga matahari. Sunthree adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari santri di pesantren. Sedang versi lain menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Pendapat di atas tentu saja cenderung mengada-ada dan "ngelmu gathuk".
Ada pula yang menyebut bahwa santri diambil dari bahasa ‘Tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’ sebagaimana dikemukakan Prof. Dr. Zamakhsyari Dhofier yang mengutip pendapat Prof. Johns. Sementara itu Soegarda Poerbakawatja menegaskan bahwa tradisi pesantren bukanlah berasal dan sistem pendidikan Islam di Makkah, melainkan dari tradisi Hindu dengan melihat keseluruhan sistem pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapat gaji, penghormatan yang besar terhadap guru dari para murid. Juga letak pesantren yang didirikan di luar kota dapat dijadikan alasan untuk membuktikan asal-usul pesantren dari Hindu ini. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Van Bruinessen.
Selain itu, sementara menurut Cak Nur (Dr. Nurkholis Madjid) kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (Sansekerta atau Jawa kuno), yang berarti orang yang selalu mengikuti gurunya, ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘Shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’ sebagaimana pendapat C.C. Berg. Dan selaras dengan Berg, Cliford Geertz menduga bahwa pengertian santri sangat mungkin berasal dan bahasa sangsekerta ‘shastri’, yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern memiliki arti yang sempit dan arti yang luas. Dalam arti sempit, ialah seorang pelajar yang belajar disekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren, sedang dalam arti yang lebih luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh, yang bersembahyang ke masjid pada hari Jumat, dan sebagainya.
SANTRI DAN ASIMILASI PENDIDIKAN
Lesbumi PBNU sebelumnya telah pula membedah perihal sejarah pesantren dan santri sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah dakwah Islam di Nusantara oleh generasi Walisongo. Asimiliasi pendidikan dari masa pra Islam hingga terbentuknya "Pesantren" merupakan proses panjang dakwah Bil hikmah ala Walisongo yang tidak menghilangkan keutuhan adi, budi, daya, dan tata krama yang diajarkan oleh para guru dan wikhu sebelumnya. Terdapat beberapa macam tempat pendidikan dan pengajaran pada masa itu, diantaranya :
Peguron : Tempat Pendidikan Kesaktian Panganut Tantrayana.
Padepokan : Tempat pengajaran dan Pendidikan penganut Kapitayan.
Asrama : Tempat Pendidikan dan Pengajaran kaum Budhis
Dukuh : Tempat Pendidikan para pandhita Hindu Syiwais
Model Pedukuhan merupakan sistem pendidikan dan pengajaran yang paling efektif kala itu, pedukuhan mengajarkan konsep Triguru dalam tata krama penghormatan. Pertama, Guru Rumpaka, yaitu orang tua. Kedua, Guru Pangajian, yaitu guru agama. Ketiga, Guru Wisesa, yaitu raja yang berkuasa.
Semua guru tersebut harus dihormati dan dipatuhi perintahnya. Bila tidak hormat dan tidak patuh pada Triguru maka akan hina dan menghadapi kehidupan yang celaka.
Selain menerima pengajaran tentang pengetahuan yang bersifat nalar/budi, para siswa di Pedukuhan juga dididik untuk menjalani Yamabrata, yaitu prilaku-prilaku yang mesti dijauhkan dari dalam diri seperti :
- Ahimsa, mencelakai
- Kroda, Pemarah
- Moha, Gelap Pikir
- Mana, Angkara Murka
- Mada, Sombong
- Iri, Dengki
Didalam Pedukuhan juga terdapat hukum dan pasal-pasal yang mengatur setiap prilaku para siswa berupa perintah atau larangan yang disebut Niyabrata seperti menjalankan Awaharalaghawa yaitu memakan makanan yang suci dengan takaran yang sederhana dan sesuai aturan dalam agama Hindu Syiwa.
Mula-mula para pendakwah Walisongo mengadopsi model Pedukuhan karena dianggap memiliki kesamaan konsep pengajaran dan pendidikan dengan ajaran Islam. Seperti Raden Rahmat yang diangkat menjadi Ratu Pandhita di wilayah Surabaya, mendirikan pedukuhan di daerah Ngampeldenta dan dikenal dengan nama Sunan Ampel. Para siswa yang selesai mengaji di Sunan Ampel lalu mendirikan Pedukuhan-pedukuhan di tempat lain. Sehingga di wilyah sekitar Ngampel masih banyak daerah dengan nama Pedukuhan/Dukuh. Begitulah terus berlangsung pedukuhan demi pedukuhan berdiri di banyak tempat sampai ke luar Jawa, seperti Sunan Giri yang jg mendirikan Pedukuhan di Wilayah Banjar, Kalimantan Selatan.
Pada perkembangan berikutnya, setelah generasi Walisongo ke II, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dll, mulai menggunakan Istilah Pesantrian (Pesantren), Murid yang belajar di Pesantren namanya Santri, diadopsi dari nama Sanskreta Shastri, yaitu julukan atau gelar untuk seseorang yang sedang mempelajari Shastra/Kitab suci.
Jika di Pedukuhan dalam hal adab belajar diajarkan Kitab Shastra "Kramaning Wikhu", maka di Pesantren diajarkan kitab "Ta'limul Muta'allim". Jika di Pedukuhan mengajarkan Budhi dan Kaweruh, maka di pesantren mengajarkan Ilmu (syariat - akhlak) dan Makrifat.
Sampai pada masa tersebut, bahasa dan karya-karya yang dibuat oleh Walisongo, Pandhita dan Santrinya masih menggunakan bahasa dan aksara lokal, Seperti "Suluk Wrucil"nya Sunan Bonang, "Suluk Linglung"nya Sunan Kalijaga, "Kidung Porwajati" dll. Belum lagi naskah Naskah dalam Aksra Lontara di tanah Bugis, dan manuskrip dalam aksara Mbojo di Bima NTB, Artefak-artefak dalam aksara Kaganga Lampung dan Batak yang menerangkan hikayat para pendakwah Islam di tanah Andalas (Sumatra) serta juga berbagai coretan petuah petuah bijak beraksara Sunda dari carita para baginda dan kanjeng Nabi dalam potongan bambu di daerah Parahyangan. Naskah2 seperti itu banyak sekali yang masih tidak terlacak dan sebagian dimungkinkan masih tersimpan di beberapa museum di luar negeri.
*Selamat memperingati Hari Santri 2016
Re-post dari FB Resmi https://www.facebook.com/LESBUMI.official/







Namun demikian masih terdapat berbagai pendapat dan definisi yang cukup beragam, meski sebenarnya mengacu pada arti yang sangat dekat, dari definisi yang bersifat sedehana dan subjektif bahkan cenderung asal-asalan hingga yang mendasarkannya pada makna empirik kesejarahan.
Misalnya ada pendapat yang mengatakan makna santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu "sun" dan "three" yang artinya tiga matahari. Sunthree adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari santri di pesantren. Sedang versi lain menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Pendapat di atas tentu saja cenderung mengada-ada dan "ngelmu gathuk".
Ada pula yang menyebut bahwa santri diambil dari bahasa ‘Tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’ sebagaimana dikemukakan Prof. Dr. Zamakhsyari Dhofier yang mengutip pendapat Prof. Johns. Sementara itu Soegarda Poerbakawatja menegaskan bahwa tradisi pesantren bukanlah berasal dan sistem pendidikan Islam di Makkah, melainkan dari tradisi Hindu dengan melihat keseluruhan sistem pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapat gaji, penghormatan yang besar terhadap guru dari para murid. Juga letak pesantren yang didirikan di luar kota dapat dijadikan alasan untuk membuktikan asal-usul pesantren dari Hindu ini. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Van Bruinessen.
Selain itu, sementara menurut Cak Nur (Dr. Nurkholis Madjid) kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (Sansekerta atau Jawa kuno), yang berarti orang yang selalu mengikuti gurunya, ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘Shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’ sebagaimana pendapat C.C. Berg. Dan selaras dengan Berg, Cliford Geertz menduga bahwa pengertian santri sangat mungkin berasal dan bahasa sangsekerta ‘shastri’, yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern memiliki arti yang sempit dan arti yang luas. Dalam arti sempit, ialah seorang pelajar yang belajar disekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren, sedang dalam arti yang lebih luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh, yang bersembahyang ke masjid pada hari Jumat, dan sebagainya.
SANTRI DAN ASIMILASI PENDIDIKAN
Lesbumi PBNU sebelumnya telah pula membedah perihal sejarah pesantren dan santri sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah dakwah Islam di Nusantara oleh generasi Walisongo. Asimiliasi pendidikan dari masa pra Islam hingga terbentuknya "Pesantren" merupakan proses panjang dakwah Bil hikmah ala Walisongo yang tidak menghilangkan keutuhan adi, budi, daya, dan tata krama yang diajarkan oleh para guru dan wikhu sebelumnya. Terdapat beberapa macam tempat pendidikan dan pengajaran pada masa itu, diantaranya :
Peguron : Tempat Pendidikan Kesaktian Panganut Tantrayana.
Padepokan : Tempat pengajaran dan Pendidikan penganut Kapitayan.
Asrama : Tempat Pendidikan dan Pengajaran kaum Budhis
Dukuh : Tempat Pendidikan para pandhita Hindu Syiwais
Model Pedukuhan merupakan sistem pendidikan dan pengajaran yang paling efektif kala itu, pedukuhan mengajarkan konsep Triguru dalam tata krama penghormatan. Pertama, Guru Rumpaka, yaitu orang tua. Kedua, Guru Pangajian, yaitu guru agama. Ketiga, Guru Wisesa, yaitu raja yang berkuasa.
Semua guru tersebut harus dihormati dan dipatuhi perintahnya. Bila tidak hormat dan tidak patuh pada Triguru maka akan hina dan menghadapi kehidupan yang celaka.
Selain menerima pengajaran tentang pengetahuan yang bersifat nalar/budi, para siswa di Pedukuhan juga dididik untuk menjalani Yamabrata, yaitu prilaku-prilaku yang mesti dijauhkan dari dalam diri seperti :
- Ahimsa, mencelakai
- Kroda, Pemarah
- Moha, Gelap Pikir
- Mana, Angkara Murka
- Mada, Sombong
- Iri, Dengki
Didalam Pedukuhan juga terdapat hukum dan pasal-pasal yang mengatur setiap prilaku para siswa berupa perintah atau larangan yang disebut Niyabrata seperti menjalankan Awaharalaghawa yaitu memakan makanan yang suci dengan takaran yang sederhana dan sesuai aturan dalam agama Hindu Syiwa.
Mula-mula para pendakwah Walisongo mengadopsi model Pedukuhan karena dianggap memiliki kesamaan konsep pengajaran dan pendidikan dengan ajaran Islam. Seperti Raden Rahmat yang diangkat menjadi Ratu Pandhita di wilayah Surabaya, mendirikan pedukuhan di daerah Ngampeldenta dan dikenal dengan nama Sunan Ampel. Para siswa yang selesai mengaji di Sunan Ampel lalu mendirikan Pedukuhan-pedukuhan di tempat lain. Sehingga di wilyah sekitar Ngampel masih banyak daerah dengan nama Pedukuhan/Dukuh. Begitulah terus berlangsung pedukuhan demi pedukuhan berdiri di banyak tempat sampai ke luar Jawa, seperti Sunan Giri yang jg mendirikan Pedukuhan di Wilayah Banjar, Kalimantan Selatan.
Pada perkembangan berikutnya, setelah generasi Walisongo ke II, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dll, mulai menggunakan Istilah Pesantrian (Pesantren), Murid yang belajar di Pesantren namanya Santri, diadopsi dari nama Sanskreta Shastri, yaitu julukan atau gelar untuk seseorang yang sedang mempelajari Shastra/Kitab suci.
Jika di Pedukuhan dalam hal adab belajar diajarkan Kitab Shastra "Kramaning Wikhu", maka di Pesantren diajarkan kitab "Ta'limul Muta'allim". Jika di Pedukuhan mengajarkan Budhi dan Kaweruh, maka di pesantren mengajarkan Ilmu (syariat - akhlak) dan Makrifat.
Sampai pada masa tersebut, bahasa dan karya-karya yang dibuat oleh Walisongo, Pandhita dan Santrinya masih menggunakan bahasa dan aksara lokal, Seperti "Suluk Wrucil"nya Sunan Bonang, "Suluk Linglung"nya Sunan Kalijaga, "Kidung Porwajati" dll. Belum lagi naskah Naskah dalam Aksra Lontara di tanah Bugis, dan manuskrip dalam aksara Mbojo di Bima NTB, Artefak-artefak dalam aksara Kaganga Lampung dan Batak yang menerangkan hikayat para pendakwah Islam di tanah Andalas (Sumatra) serta juga berbagai coretan petuah petuah bijak beraksara Sunda dari carita para baginda dan kanjeng Nabi dalam potongan bambu di daerah Parahyangan. Naskah2 seperti itu banyak sekali yang masih tidak terlacak dan sebagian dimungkinkan masih tersimpan di beberapa museum di luar negeri.
*Selamat memperingati Hari Santri 2016
Re-post dari FB Resmi https://www.facebook.com/LESBUMI.official/







Loading...