Pandangan jernih Dr Syifa Widigdo berkaitan dg perdebatan penafsiran Surah Al-Maidah 51, terutama debat antara Nusron Wahid & Tengku Zul...
Pandangan jernih Dr Syifa Widigdo berkaitan dg perdebatan penafsiran Surah Al-Maidah 51, terutama debat antara Nusron Wahid & Tengku Zulkarnain:
Absolutisme Tengku Zulkarnain dalam membaca Surat al-Maidah 33-34 dan relativisme Nusron Wahid dalam membaca teks al-Qur’an Surat al-Maidah 51 sama-sama berbahaya.
Yang pertama, posisi absolutis, meniscayakan sebuah klaim bahwa manusia mempunyai kemampuan yang absolut dan peralatan yang lengkap untuk menangkap maksud Tuhan dengan penuh seluruh. Hasilnya adalah sebuah kesombongan bahwa seakan orang tersebut mempunyai lisensi untuk membunuh, menyalib, memotong kaki dan tangan secara bersilangan, atau mengasingkan orang yang dianggapnya memerangi Allah dan Rasul-Nya. Padahal, dia sendiri tidak mempunyai bukti yang meyakinkan apakah yang dilakukan oleh pihak terduga benar-benar memerangi Allah dan Rasul-Nya. Para ʿulamā’ sendiri juga tidak mempunyai kata sepakat (ijmāʿ) tentang apa saja yang dimasukkan dalam kategori memerangi Allah dan Rasul-Nya. Level kepastian ayat yang dipersilisihkan makna atau aplikasinya dalam khazanah keilmuan Islam adalah ẓannī (kemungkinan), bukan qaṭʿī (kepastian). Perlu kerendahan hati dan perhatian terhadap konteks untuk memahami ayat-ayat seperti ini. Kalau keduanya tidak dilakukan, seperti yang ditunjukkan oleh Tengku Zulkarnain dalam acara ILC (Indonesia Lawyers Club) minggu ini, pesan utama agama untuk membawa rahmat buat sesama bisa rusak dan berantakan oleh penganutnya sendiri.
Yang kedua, posisi relativis, mempunyai anggapan yang
sebaliknya. Manusia dianggap tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk memahami maksud Tuhan. Hanya Tuhan yang dianggap tahu. Posisi ini juga berbahaya sebab manusia dipandang tidak mempunyai akses dan alat yang meyakinkan untuk menjangkau maksud Tuhan. Pemikiran dan tafsir manusia dianggap salah semua karena tidak bisa mendekati maksud Tuhan sebenarnya; atau, dinilai betul semua sehingga manusia mustahil mempunyai keyakinan atas sebuah kebenaran. Jika klaim seperti ini terus diikuti, umat Islam tidak akan mengetahui syariat agamanya, wajib atau tidaknya shalat, halal atau haramnya khamr, atau dilarang atau tidaknya membunuh orang tanpa alasan. Semua relatif. Padahal, Tuhan mengaruniai akal dan ilmu bagi menusia agar mampu membaca tanda-tanda (āyāt) Tuhan baik di alam semesta maupun di dalam teks-teks suci. Meski seringkali yang didapat bukanlah pengetahuan yang absolut dan pasti (qaṭʿī), namun manusia dapat sampai kepada pengetahuan yang meyakinkan (ghalabat al-ẓann atau yaqīn) tentang maksud Tuhan yang dapat dijadikannya sebagai pijakan untuk berbuat dan berpendapat. Di dalam khazanah ilmu keislaman, pengetahuan yang meyakinkan itu adalah hasil dari ijtihād, pengerahan daya intelektual yang sungguh-sungguh dari seorang alim. Jika berkesesuaian dengan maksud Tuhan yang sebenarnya, dia mendapat dua pahala. Bila pendapat dan amalnya tidak berkesesuaian dengan maksud Tuhan yang sebenarnya, dia tetap mendapat pahala atas usaha intelektualnya yang keras dan tulus tersebut. Nusron Wahid di acara ILC minggu ini tidak memahami kompleksitas ilmu teks keagamaan seperti ini. Dia hanya memakai teori sastra secara selektif untuk menjustifikasi kepentingannya sendiri. Dia bahkan mengabaikan tradisi Foucaultian yang menekankan pentingnya relasi kuasa dalam memahami teks.
Yang ketiga adalah posisi tengah. Sayyid Hossein Naṣr mungkin menyebutnya sebagai posisi relatively absolute (manusia dengan segala produknya yang bersifat relatif berusaha untuk menuju dan menjangkau Yang Maha Absolut). Kalau saya lebih suka memakai istilah posisi yang optimis. Posisi ini mengandaikan bahwa manusia diberi bekal kemampuan oleh Tuhan berupa akal dan ilmu untuk menangkap maksud Tuhan yang sebenarnya. Dengan bekal tersebut, manusia dapat memahami maksud Tuhan yang sebenarnya ketika dihadapkan dengan teks-teks keagamaan yang bersifat naṣṣ (univokal) atau qaṭʿ (konklusif). Hanya saja, jumlah teks keagamaan yang mempunyai level kepastian seratus persen tersebut, yang tidak mempunyai tafsir beragam, sangat sedikit. Oleh sebab itu, yang diperintahkan Tuhan adalah agar manusia mendayagunakan akal dan ilmunya untuk mendekati maksud Tuhan yang sebenarnya dengan level pengetahuan yang meyakinkan (ghalabat al-ẓann), bukan pengetahuan dengan level kepastian (qaṭʿ). Itulah yang namanya ijtihād, ketika seseorang mengerahkan akal dan ilmu untuk sampai pada pengetahuan yang mendekati maksud Tuhan, sambil tetap dengan rendah hati membuka kemungkinan bahwa pendapatnya dapat dikoreksi bila ditemukan salah. Pengetahuan, baik dalam bentuk bentuk tafsir atau pendapat, yang lahir dari ijtihād dapat dijadikan sebagai pedoman dan landasan untuk bertindak bagi manusia beragama. Ini berbeda dengan klaim sok jagoan posisi absolutis yang seakan-akan menjadi “Tuhan” di muka bumi. Berbeda juga dengan posisi relativis yang sok rendah hati tapi sesunguhnya mengandung kepongahan yang sama karena mengecilkan semua pendapat dan pengetahuan. Seakan pengetahuan yang diproduksi seorang alim dengan akal dan ilmunya melalui ijtihād sama dan sebanding kualitasnya dengan pengetahuan yang keluar dari mulut seorang awam yang asal bicara. Posisi tengah mempunyai optimisme bahwa manusia dengan akal dan ilmunya dapat menangkap maksud Tuhan dengan derajat yang meyakinkan. Ada gabungan antara kerendahan hati dan optimisme dalam produksi pengetahuan yang akan menjadi pedoman bagi tindakan (asās lil ʿamal) dalam hal ini. Inilah posisi intelektual yang optimis.
Hanya saja, posisi tengah seperti ini seringkali tidak terdengar dan diabaikan karena dianggap tidak tegas. Sayup-sayup saja. Tak apalah. Biar ruput yang bergoyang saja yang mendengar. Itupun kalau mau. Di saat lain, anehnya, posisi ini juga beresiko mendapat hantaman bertubi-tubi dari sisi kiri dan kanan. Tak apa jugalah. Kadang saya juga perlu dapat hantaman agar adrenalin yang mecerahkan dapat menghampiri hati dan pikiran. Wallahu a’lam.
Re-post dari https://www.facebook.com/najibburhani

Absolutisme Tengku Zulkarnain dalam membaca Surat al-Maidah 33-34 dan relativisme Nusron Wahid dalam membaca teks al-Qur’an Surat al-Maidah 51 sama-sama berbahaya.
Yang pertama, posisi absolutis, meniscayakan sebuah klaim bahwa manusia mempunyai kemampuan yang absolut dan peralatan yang lengkap untuk menangkap maksud Tuhan dengan penuh seluruh. Hasilnya adalah sebuah kesombongan bahwa seakan orang tersebut mempunyai lisensi untuk membunuh, menyalib, memotong kaki dan tangan secara bersilangan, atau mengasingkan orang yang dianggapnya memerangi Allah dan Rasul-Nya. Padahal, dia sendiri tidak mempunyai bukti yang meyakinkan apakah yang dilakukan oleh pihak terduga benar-benar memerangi Allah dan Rasul-Nya. Para ʿulamā’ sendiri juga tidak mempunyai kata sepakat (ijmāʿ) tentang apa saja yang dimasukkan dalam kategori memerangi Allah dan Rasul-Nya. Level kepastian ayat yang dipersilisihkan makna atau aplikasinya dalam khazanah keilmuan Islam adalah ẓannī (kemungkinan), bukan qaṭʿī (kepastian). Perlu kerendahan hati dan perhatian terhadap konteks untuk memahami ayat-ayat seperti ini. Kalau keduanya tidak dilakukan, seperti yang ditunjukkan oleh Tengku Zulkarnain dalam acara ILC (Indonesia Lawyers Club) minggu ini, pesan utama agama untuk membawa rahmat buat sesama bisa rusak dan berantakan oleh penganutnya sendiri.
Yang kedua, posisi relativis, mempunyai anggapan yang
sebaliknya. Manusia dianggap tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk memahami maksud Tuhan. Hanya Tuhan yang dianggap tahu. Posisi ini juga berbahaya sebab manusia dipandang tidak mempunyai akses dan alat yang meyakinkan untuk menjangkau maksud Tuhan. Pemikiran dan tafsir manusia dianggap salah semua karena tidak bisa mendekati maksud Tuhan sebenarnya; atau, dinilai betul semua sehingga manusia mustahil mempunyai keyakinan atas sebuah kebenaran. Jika klaim seperti ini terus diikuti, umat Islam tidak akan mengetahui syariat agamanya, wajib atau tidaknya shalat, halal atau haramnya khamr, atau dilarang atau tidaknya membunuh orang tanpa alasan. Semua relatif. Padahal, Tuhan mengaruniai akal dan ilmu bagi menusia agar mampu membaca tanda-tanda (āyāt) Tuhan baik di alam semesta maupun di dalam teks-teks suci. Meski seringkali yang didapat bukanlah pengetahuan yang absolut dan pasti (qaṭʿī), namun manusia dapat sampai kepada pengetahuan yang meyakinkan (ghalabat al-ẓann atau yaqīn) tentang maksud Tuhan yang dapat dijadikannya sebagai pijakan untuk berbuat dan berpendapat. Di dalam khazanah ilmu keislaman, pengetahuan yang meyakinkan itu adalah hasil dari ijtihād, pengerahan daya intelektual yang sungguh-sungguh dari seorang alim. Jika berkesesuaian dengan maksud Tuhan yang sebenarnya, dia mendapat dua pahala. Bila pendapat dan amalnya tidak berkesesuaian dengan maksud Tuhan yang sebenarnya, dia tetap mendapat pahala atas usaha intelektualnya yang keras dan tulus tersebut. Nusron Wahid di acara ILC minggu ini tidak memahami kompleksitas ilmu teks keagamaan seperti ini. Dia hanya memakai teori sastra secara selektif untuk menjustifikasi kepentingannya sendiri. Dia bahkan mengabaikan tradisi Foucaultian yang menekankan pentingnya relasi kuasa dalam memahami teks.
Yang ketiga adalah posisi tengah. Sayyid Hossein Naṣr mungkin menyebutnya sebagai posisi relatively absolute (manusia dengan segala produknya yang bersifat relatif berusaha untuk menuju dan menjangkau Yang Maha Absolut). Kalau saya lebih suka memakai istilah posisi yang optimis. Posisi ini mengandaikan bahwa manusia diberi bekal kemampuan oleh Tuhan berupa akal dan ilmu untuk menangkap maksud Tuhan yang sebenarnya. Dengan bekal tersebut, manusia dapat memahami maksud Tuhan yang sebenarnya ketika dihadapkan dengan teks-teks keagamaan yang bersifat naṣṣ (univokal) atau qaṭʿ (konklusif). Hanya saja, jumlah teks keagamaan yang mempunyai level kepastian seratus persen tersebut, yang tidak mempunyai tafsir beragam, sangat sedikit. Oleh sebab itu, yang diperintahkan Tuhan adalah agar manusia mendayagunakan akal dan ilmunya untuk mendekati maksud Tuhan yang sebenarnya dengan level pengetahuan yang meyakinkan (ghalabat al-ẓann), bukan pengetahuan dengan level kepastian (qaṭʿ). Itulah yang namanya ijtihād, ketika seseorang mengerahkan akal dan ilmu untuk sampai pada pengetahuan yang mendekati maksud Tuhan, sambil tetap dengan rendah hati membuka kemungkinan bahwa pendapatnya dapat dikoreksi bila ditemukan salah. Pengetahuan, baik dalam bentuk bentuk tafsir atau pendapat, yang lahir dari ijtihād dapat dijadikan sebagai pedoman dan landasan untuk bertindak bagi manusia beragama. Ini berbeda dengan klaim sok jagoan posisi absolutis yang seakan-akan menjadi “Tuhan” di muka bumi. Berbeda juga dengan posisi relativis yang sok rendah hati tapi sesunguhnya mengandung kepongahan yang sama karena mengecilkan semua pendapat dan pengetahuan. Seakan pengetahuan yang diproduksi seorang alim dengan akal dan ilmunya melalui ijtihād sama dan sebanding kualitasnya dengan pengetahuan yang keluar dari mulut seorang awam yang asal bicara. Posisi tengah mempunyai optimisme bahwa manusia dengan akal dan ilmunya dapat menangkap maksud Tuhan dengan derajat yang meyakinkan. Ada gabungan antara kerendahan hati dan optimisme dalam produksi pengetahuan yang akan menjadi pedoman bagi tindakan (asās lil ʿamal) dalam hal ini. Inilah posisi intelektual yang optimis.
Hanya saja, posisi tengah seperti ini seringkali tidak terdengar dan diabaikan karena dianggap tidak tegas. Sayup-sayup saja. Tak apalah. Biar ruput yang bergoyang saja yang mendengar. Itupun kalau mau. Di saat lain, anehnya, posisi ini juga beresiko mendapat hantaman bertubi-tubi dari sisi kiri dan kanan. Tak apa jugalah. Kadang saya juga perlu dapat hantaman agar adrenalin yang mecerahkan dapat menghampiri hati dan pikiran. Wallahu a’lam.
Re-post dari https://www.facebook.com/najibburhani

posted from Bloggeroid
Loading...