Tumbuhan Petir: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : الكمأة من المنّ، وماءها شفاء للعين “Kam’ah termasuk al-mann, airnya ...
Tumbuhan Petir:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
الكمأة من المنّ، وماءها شفاء للعين
“Kam’ah termasuk al-mann, airnya menyembuhkan mata.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kam’ah tumbuh di tanah tanpa ditanam. Ia disebut kam’ah, karena keadaannya yang tersembunyi. Ia tersembunyi di bawah tanah, tanpa daun dan batang. Materinya berasal dari saripati tanah yang beruap yang menumpuk ke arah permukaan. Materi-materi ini menumpuk disebabkan oleh dinginnya musim dingin dan ditumbuhkan oleh hujan di musim semi, sehingga ia tumbuh dan muncul di permukaan tanah. Karena itu, ia disebut pula dengan judariyyu `l-ardhi (cacar bumi).
Kam’ah ini tumbuh di musim semi, bisa dimakan mentah maupun setelah dimasak. Ia juga disebut nabâtu `r-ro‘d (tumbuhan petir), karena kam’ah akan muncul banyak, bila banyak petir, dan tanah merekah karena kemunculannya.
Kam’ah berkembang biak di tepi-tepi sungai, di mana tumbuh berbagai jenis tumbuhan dari famili ini. Kawasan yang terbentang dari Afrika Utara hingga perbatasan Asia Tengah, yang meliputi seluruh wilayah Iran, Syiria, Palestina, dan Jazirah Arab merupakan lingkungan alami tempat pembiakan kam‘ah.
Orang Arab menyebut al kam'ah dengan sebutan nabâtu `r-ro‘d (tumbuhan petir), karena ia tumbuh banyak apabila terdapat banyak petir, ditumbuhkan oleh hujan di musim semi, seiring dengan terjadi-nya petir dan turunnya hujan.
Sabda Nabi, “Termasuk Al-Mann”, maksudnya adalah Allah Ta’ala telah menjadikannya sebagai mann (karunia) bagi hamba-hamba-Nya. Ia bukan tumbuhan, bukan hewan, tidak memiliki karakteristik tumbuhan, tidak mempunyai daun, akar, batang, atau bunga. Ia juga tumbuh tanpa perlu benih, tanpa perlu mengolah tanah, tanpa perlu menanamnya dan mengairinya. Ia dikaruniakan oleh Allah kepada kita begitu saja. Semua riset ilmiah menegaskan bahwa setiap upaya budi daya kam’ah selalu berakhir dengan kegagalan.
"Termasuk al Mann" bisa juga dipahami, bahwa al kam'ah inilah diantara makanan makanan pemberian Allah secara langsung kepada Bani Israil dalam perjalanan mereka menuju Al Ardh Al Muqoddasah bersama Nabi Musa, sebagaimana diceritakan Al Quran dalam surat Al Baqoroh: 57
Sumber:
- Dr. Mushthofâ Hamzah, Prof. Dr. ‘Abdul Majîd Bal‘abid, Dr. Husain Thôhirî, Hai’atu `l-I‘jâzi `l-‘Ilmî, edisi kedelapan, Syawal, 1421 H.
- Dan lain lain.
Re-post dari fb M Afifudin Dimyathi ( pengasuh ponpes hidayatul quran darul ulum rejoso peterongan )




Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
الكمأة من المنّ، وماءها شفاء للعين
“Kam’ah termasuk al-mann, airnya menyembuhkan mata.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kam’ah tumbuh di tanah tanpa ditanam. Ia disebut kam’ah, karena keadaannya yang tersembunyi. Ia tersembunyi di bawah tanah, tanpa daun dan batang. Materinya berasal dari saripati tanah yang beruap yang menumpuk ke arah permukaan. Materi-materi ini menumpuk disebabkan oleh dinginnya musim dingin dan ditumbuhkan oleh hujan di musim semi, sehingga ia tumbuh dan muncul di permukaan tanah. Karena itu, ia disebut pula dengan judariyyu `l-ardhi (cacar bumi).
Kam’ah ini tumbuh di musim semi, bisa dimakan mentah maupun setelah dimasak. Ia juga disebut nabâtu `r-ro‘d (tumbuhan petir), karena kam’ah akan muncul banyak, bila banyak petir, dan tanah merekah karena kemunculannya.
Kam’ah berkembang biak di tepi-tepi sungai, di mana tumbuh berbagai jenis tumbuhan dari famili ini. Kawasan yang terbentang dari Afrika Utara hingga perbatasan Asia Tengah, yang meliputi seluruh wilayah Iran, Syiria, Palestina, dan Jazirah Arab merupakan lingkungan alami tempat pembiakan kam‘ah.
Orang Arab menyebut al kam'ah dengan sebutan nabâtu `r-ro‘d (tumbuhan petir), karena ia tumbuh banyak apabila terdapat banyak petir, ditumbuhkan oleh hujan di musim semi, seiring dengan terjadi-nya petir dan turunnya hujan.
Sabda Nabi, “Termasuk Al-Mann”, maksudnya adalah Allah Ta’ala telah menjadikannya sebagai mann (karunia) bagi hamba-hamba-Nya. Ia bukan tumbuhan, bukan hewan, tidak memiliki karakteristik tumbuhan, tidak mempunyai daun, akar, batang, atau bunga. Ia juga tumbuh tanpa perlu benih, tanpa perlu mengolah tanah, tanpa perlu menanamnya dan mengairinya. Ia dikaruniakan oleh Allah kepada kita begitu saja. Semua riset ilmiah menegaskan bahwa setiap upaya budi daya kam’ah selalu berakhir dengan kegagalan.
"Termasuk al Mann" bisa juga dipahami, bahwa al kam'ah inilah diantara makanan makanan pemberian Allah secara langsung kepada Bani Israil dalam perjalanan mereka menuju Al Ardh Al Muqoddasah bersama Nabi Musa, sebagaimana diceritakan Al Quran dalam surat Al Baqoroh: 57
Sumber:
- Dr. Mushthofâ Hamzah, Prof. Dr. ‘Abdul Majîd Bal‘abid, Dr. Husain Thôhirî, Hai’atu `l-I‘jâzi `l-‘Ilmî, edisi kedelapan, Syawal, 1421 H.
- Dan lain lain.
Re-post dari fb M Afifudin Dimyathi ( pengasuh ponpes hidayatul quran darul ulum rejoso peterongan )




posted from Bloggeroid
Loading...