SHOLAT TIDAK PENTING! - Datanglah ke AEON Mall BSD City, Tangerang. Pusat perbelanjaan ini merupakan mal dengan konsep Jepang pertama yang h...
SHOLAT TIDAK PENTING! - Datanglah ke AEON Mall BSD City, Tangerang. Pusat perbelanjaan ini merupakan mal dengan konsep Jepang pertama yang hadir di Indonesia. Di negara aslinya, seperti di kota Tokyo, Aeon merupakan salah satu pusat perbelanjaan populer dan terbesar.
Tetapi tengoklah musholla-nya. Pusat perbelanjaan yang konon elit dan megapolitan ini, hanya menyediakan ruang ibadah (musholla) yang kumuh, pengap, panas dan berhawa tak sedap. Maklum tanpa AC dan hanya disediakan satu kipas angin. Orang sholat seakan “menyembah” kipas angin. Saya merasakan ketidak nyamanan ini.
Posisi musholla pun di tempatkan jauh dari pusat “hedonis” di lantai paling atas (lantai 4), yang harus ditempuh naik turun dengan tangga manual. Jauh berbeda dengan tempat belanja, yang dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana, naik turun lantai menggunakan tangga elektrik (eskalator dan Lift). Dengan berbagai booth, display, panel, partisi toko dan interior mall yang didesign sedemikian rupa, indah, gemerlap, estetik, menarik, bersih, wangi, berpendingin, dan nyaman. Setidaknya hal itu saya rasakan ketika menikmati makanan khas Jepang kesukaanku, Nabeyaki Udon (Mie Kuah Panas), di Ootoya Japanese Restaurant di mall yang mewah ini. Saya jatuh cinta pada masakan ini ketika pernah bertandang ke Osaka Jepang pada musim dingin beberapa tahun yang lalu.
Musholla memang bukan “komoditas dagangan” yang menjadi orientasi kapitalisasi pengelola mall ini. Namun setidaknya pengelola mall dapat menghargai, toleran, dan faham, bahwa mayoritas bangsa Indonesia, berpenduduk muslim. Terlebih mayoritas pengunjung, pelayan resto dan toko, serta pekerja mall, yang notabenenya adalah muslim. Mereka semua memerlukan musholla yang sama; estetik, menarik (kontemplatif), khusu’, wangi, berpendingin, dan nyaman.
Jika mall ini mengusung konsep kultur Jepang dengan berbagai komoditinya, seharusnya juga tidak lupa bahwa budaya Jepang sangat erat hubungannya dengan sistem kepercayaan, dan mitologi yang dianut masyarakat Jepang sejak zaman dulu. Meskipun Jepang bangsa modern, namun di negeri berjuluk “matahari terbit” ini kita mudah menemukan jinja (kuil shinto) dan otera (kuil Buddha) di banyak tempat. Walau penganut Shinto dan Buddha secara ritual tidak sekerap umat muslim melaksanakan sholat.
Cintailah budayamu dan hargai budaya orang lain...
Re-post dari akin FB Eddie Karsito





Tetapi tengoklah musholla-nya. Pusat perbelanjaan yang konon elit dan megapolitan ini, hanya menyediakan ruang ibadah (musholla) yang kumuh, pengap, panas dan berhawa tak sedap. Maklum tanpa AC dan hanya disediakan satu kipas angin. Orang sholat seakan “menyembah” kipas angin. Saya merasakan ketidak nyamanan ini.
Posisi musholla pun di tempatkan jauh dari pusat “hedonis” di lantai paling atas (lantai 4), yang harus ditempuh naik turun dengan tangga manual. Jauh berbeda dengan tempat belanja, yang dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana, naik turun lantai menggunakan tangga elektrik (eskalator dan Lift). Dengan berbagai booth, display, panel, partisi toko dan interior mall yang didesign sedemikian rupa, indah, gemerlap, estetik, menarik, bersih, wangi, berpendingin, dan nyaman. Setidaknya hal itu saya rasakan ketika menikmati makanan khas Jepang kesukaanku, Nabeyaki Udon (Mie Kuah Panas), di Ootoya Japanese Restaurant di mall yang mewah ini. Saya jatuh cinta pada masakan ini ketika pernah bertandang ke Osaka Jepang pada musim dingin beberapa tahun yang lalu.
Musholla memang bukan “komoditas dagangan” yang menjadi orientasi kapitalisasi pengelola mall ini. Namun setidaknya pengelola mall dapat menghargai, toleran, dan faham, bahwa mayoritas bangsa Indonesia, berpenduduk muslim. Terlebih mayoritas pengunjung, pelayan resto dan toko, serta pekerja mall, yang notabenenya adalah muslim. Mereka semua memerlukan musholla yang sama; estetik, menarik (kontemplatif), khusu’, wangi, berpendingin, dan nyaman.
Jika mall ini mengusung konsep kultur Jepang dengan berbagai komoditinya, seharusnya juga tidak lupa bahwa budaya Jepang sangat erat hubungannya dengan sistem kepercayaan, dan mitologi yang dianut masyarakat Jepang sejak zaman dulu. Meskipun Jepang bangsa modern, namun di negeri berjuluk “matahari terbit” ini kita mudah menemukan jinja (kuil shinto) dan otera (kuil Buddha) di banyak tempat. Walau penganut Shinto dan Buddha secara ritual tidak sekerap umat muslim melaksanakan sholat.
Cintailah budayamu dan hargai budaya orang lain...
Re-post dari akin FB Eddie Karsito





Loading...