Re-post dari akun fb Rudi Fofid Alifuru Tigutil Basudara dari Papua sampai Aceh, bahkan di seluruh benua. Terima kasih untuk apresiasi kep...
Re-post dari akun fb Rudi Fofid Alifuru Tigutil
Basudara dari Papua sampai Aceh, bahkan di seluruh benua. Terima kasih untuk apresiasi kepada saya dan rekan-rekan saya di Poso yang menerima Maarif Award 2016. Saya tidak bisa merespon satu demi satu, karena keterbatasan jangkauan.
Saya adalah salah satu penerima award, tapi saya bukan juara sebab ini bukan kompetisi. Saya juga bukan pemenang sebab tak ada yang dikalahkan. Saya menerima award ini sebagai rasa hormat kepada Maarif Institute dan semua orang yang pernah berjalan bersama saya seumur hidup saya di banyak pulau. banyak kampung, banyak rumah, banyak lorong, banyak pantai dan gunung.
Award ini adalah siraman air di sisi jalan kepada pelari maraton supaya sejenak sejuk segar demi melanjutkan lari di jalan tak ada ujung.
Baiklah saya kopi-paste sambutan saya pada hari penganugerahan. Semoga bisa menjadi respon balik kepada basudara semua. Dari DE Kemalawati di Aceh, sampai Charles Roring di Papua. Berikut ini sambutan tertulis saya:
"Tak perlu sedu-sedan itu!
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Luka dan bisa kubawa berlari/
Berlari/
Hingga hilang pedih perih
Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi”
Chairil Anwar benar. Banyak orang di Maluku menjadi binatang jalang. Mereka saling melukai, lalu berlari ke rimba, saling menjilat luka dan nanah. Aneh, segala luka itu sembuh, walau membekas menjadi teks-teks kenangan. Terkadang manis, terkadang getir.
Berdiri di mimbar Maarif Award yang terhormat ini, bukanlah sebuah cita-cita. Saya malu dan merasa tidak layak sebab saya belum punya satu mahakarya untuk kebudayaan. Tapi saya kuatkan hati, datang dengan haru sebagai rasa hormat, dan penghargaan kembali kepada Maarif Institute, yang memandang Indonesia secara tulus dengan visi besar kemanusiaan.
Penghargaan ini bukanlah tentang satu pribadi, tetapi justru tentang orang-orang di Pantai Sopi Pulau Morotai di bibir Samudera Pasifik, sampai ke Pantai Marsela di bibir Samudera Indonesia. Saya tak pernah berjalan sendiri atau bekerja sendiri. Di sekeliling saya, ada rantai panjang individu dan komunitas besar-kecil yang saling tambal, sulam, terpilin menjadi kain pedamaian yang diikat banyak utas benang.
Sambil berdiri di sini, saya mengajak Indonesia memandang pulau-pulau kecil yang menyembul di Laut Maluku. Ada tesis bahwa: Butuh seratus tahun untuk Maluku Damai. Ternyata, hanya beberapa tahun, tesis itu dipatahkan. Orang Maluku di berbagai lini telah bergerak serentak dengan cara dan gaya yang khas. Orang muda Maluku telah bangkit dengan jaya dan hidup-hidupan. Di kota dan kampung, di pulau-pulau, muncul aktor-aktor tidak terkenal. Melalui komunitas kreatif, mereka mewujudkan Maluku Damai. Datanglah ke Maluku, saksikan bagaimana hobi, minat, bakat, talenta dicurahkan untuk merawat dan memuliakan kehidupan.
Hadirin yang saya muliakan! Sebagai wartawan, saya berjalan ke banyak tempat, bertemu komunitas-komunitas muda. Kami beda kampung dan pulau, beda bahasa, bahkan beda agama. Saya tidur di banyak tempat, di rumah, pantai, gunung, tenda, perpustakaan, studio music, sekretariat bahkan di bawah pohon. Sebagai penganut Katolik, saya banyak berjumpa dengan Islam. Bila saya tidur di rumah keluarga Muslim, saya menangkap sinar mata, getar suara dan gurat senyum. Selalu saya merasa orang-orang Muslim sangat rindu dan berbahagia sebab di rumahnya ada orang Kristen makan, minum, mandi, tidur dan melakukan aktivitas layaknya di rumah sendiri.
Sebaliknya, saya rindu berjumpa sebanyak-banyaknya dengan Islam, sekadar untuk pulang membawa kabar baik, bahwa Islam dipenuhi orang-orang baik. Saya menemukan orang-orang sederhana di kampung, yang memperkenalkan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Islam cinta kasih, cinta damai, dan yang paling penting: Islam bukan teroris.
Saya berbahagia bahwa orang-orang tua dari kampung Islam, mempercayakan anaknya perempuan dan laki-laki datang di kampung saya, tinggal di rumah saya. Pada malam hari ketika saatnya mendirikan sholat isya, mereka bertanya: “Papa, kiblat di mana ya?” Saya lantas menunjuk arah kiblat, sambil menatap langit sekadar menyembunyikan air mata yang nyaris tumpah karena dipenuhi rasa haru.
Saya merasa pengalaman batin saya perlu juga dialami orang muda di Maluku. Maka melalui jurnalisme warga, aksi sosial, puisi, teater, music, film, apa saja, saya ikut mempertemukan bintang-bintang belia yang sebelumnya tidak saling berjumpa. Saya bersyukur, banyak orang muda membuka hati untuk perjumpaan, persentuhan, perhentian, dialog, permenungan, dan terbentuklah persepsi bersama, visi bersama, misi bersama, dan aksi bersama.
Maarif Award ini saya bawa pulang ke Maluku untuk dipersembahkan bagi semua orang yang telah berjuang merawat kehidupan, menumbuhkan kemanusiaan. Terima kasih Maarif Institute, ini adalah kali kedua Maluku menerima penghargaan ini.
Terima kasih Bapa Raja dan nyora-nyora, warga kampung-kampung di Maluku yang selalu menerima kehadiran saya dan komunitas-komunitas yang datang ke kampung. Salam, hormat dan terima kasih bagi basudara Muslim di Batumerah-Waringin-Waihaong-Pohon Mangga, Lata, Waiheru Kate-Kate, Wayame, Laha, Wakasihu, Larike, Asilulu, Negeri Lima, Seith, Kaitetu, Hila, Wakal, Hitu, Mamala, Morella, Liang, Tulehu, Tial, Tengah-Tengah, juga basudara Hatuhaha Ori Pelauw Kailolo, Siri-Sori Islam, Iha dan Kulur. Basudara Salam-Sarani di Malra, Malteng dan Malut. Katong semua basudara, laeng sayang laeng.
Terima kasih para mahasiswa Islam, dosen dan rektor di kampus hijau Universitas Darussalam dan IAIN Ambon. “Saya pernah memarahi mahasiswa yang tidak mendirikan sholat, mohon jangan simpan di hati, sebab saya masih akan marah-marah lagi”.
Terima kasih MUI Maluku dan para ustads, Ketua Sinode GPM dan para pendeta, Uskup dan para pastor. Saya kenal Islam Maluku dan Kristen Maluku karena para ulama sering memberi ruang pembelajaran melalui kata-kata dan tindakan yang penuh teladan.
Terima kasih Paparisa Ambon Bergerak, komunitas pecinta alam Maluku, komunitas teater, puisi, fotografi, music, film bahkan komunitas jalan-jalan. Terima kasih mama-mama penjual nasi kuning begadang, kafe-kafe yang memfasilitasi kaum muda, Taman Budaya Maluku, Universitas Pattimura, UKIM, Kantor Bahasa, para guru dan siswa dan media massa.
Saya harus menyebut nama anak-anak tercinta Ronal-Maxie dan barisan anak SD-SMP yang pernah masuk perang membela Kristen. Juga anak-anak terkasih Said-Iskandar dan barisan jihad cilik yang semasa SD-SMP masuk perang membela Islam. Badai telah berlalu. Kalian telah menemukan jalan pulang, dari pelaku konflik menjadi provokator damai. Terbayang saat paling manis, ketika kalian bertemu, berpelukan dan meleleh air mata. Maarif Award ini untuk kalian.
Akhirnya, beta mau cepat pulang ke Maluku, kembali ke laut biru pasir putih, pada pohon yang memiringkan badan. Beta perlu papeda lembut, ikan kuah kuning, colo-colo, sebab di meja makan itu, ada nikmat rempah-rempah. Kasih Allah yang rahman dan rahim melalui ina-ina, ama-ama, jujaro dan mongare selalu terasa di timur matahari.
Salam damai dari Timur Indonesia

Basudara dari Papua sampai Aceh, bahkan di seluruh benua. Terima kasih untuk apresiasi kepada saya dan rekan-rekan saya di Poso yang menerima Maarif Award 2016. Saya tidak bisa merespon satu demi satu, karena keterbatasan jangkauan.
Saya adalah salah satu penerima award, tapi saya bukan juara sebab ini bukan kompetisi. Saya juga bukan pemenang sebab tak ada yang dikalahkan. Saya menerima award ini sebagai rasa hormat kepada Maarif Institute dan semua orang yang pernah berjalan bersama saya seumur hidup saya di banyak pulau. banyak kampung, banyak rumah, banyak lorong, banyak pantai dan gunung.
Award ini adalah siraman air di sisi jalan kepada pelari maraton supaya sejenak sejuk segar demi melanjutkan lari di jalan tak ada ujung.
Baiklah saya kopi-paste sambutan saya pada hari penganugerahan. Semoga bisa menjadi respon balik kepada basudara semua. Dari DE Kemalawati di Aceh, sampai Charles Roring di Papua. Berikut ini sambutan tertulis saya:
"Tak perlu sedu-sedan itu!
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Luka dan bisa kubawa berlari/
Berlari/
Hingga hilang pedih perih
Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi”
Chairil Anwar benar. Banyak orang di Maluku menjadi binatang jalang. Mereka saling melukai, lalu berlari ke rimba, saling menjilat luka dan nanah. Aneh, segala luka itu sembuh, walau membekas menjadi teks-teks kenangan. Terkadang manis, terkadang getir.
Berdiri di mimbar Maarif Award yang terhormat ini, bukanlah sebuah cita-cita. Saya malu dan merasa tidak layak sebab saya belum punya satu mahakarya untuk kebudayaan. Tapi saya kuatkan hati, datang dengan haru sebagai rasa hormat, dan penghargaan kembali kepada Maarif Institute, yang memandang Indonesia secara tulus dengan visi besar kemanusiaan.
Penghargaan ini bukanlah tentang satu pribadi, tetapi justru tentang orang-orang di Pantai Sopi Pulau Morotai di bibir Samudera Pasifik, sampai ke Pantai Marsela di bibir Samudera Indonesia. Saya tak pernah berjalan sendiri atau bekerja sendiri. Di sekeliling saya, ada rantai panjang individu dan komunitas besar-kecil yang saling tambal, sulam, terpilin menjadi kain pedamaian yang diikat banyak utas benang.
Sambil berdiri di sini, saya mengajak Indonesia memandang pulau-pulau kecil yang menyembul di Laut Maluku. Ada tesis bahwa: Butuh seratus tahun untuk Maluku Damai. Ternyata, hanya beberapa tahun, tesis itu dipatahkan. Orang Maluku di berbagai lini telah bergerak serentak dengan cara dan gaya yang khas. Orang muda Maluku telah bangkit dengan jaya dan hidup-hidupan. Di kota dan kampung, di pulau-pulau, muncul aktor-aktor tidak terkenal. Melalui komunitas kreatif, mereka mewujudkan Maluku Damai. Datanglah ke Maluku, saksikan bagaimana hobi, minat, bakat, talenta dicurahkan untuk merawat dan memuliakan kehidupan.
Hadirin yang saya muliakan! Sebagai wartawan, saya berjalan ke banyak tempat, bertemu komunitas-komunitas muda. Kami beda kampung dan pulau, beda bahasa, bahkan beda agama. Saya tidur di banyak tempat, di rumah, pantai, gunung, tenda, perpustakaan, studio music, sekretariat bahkan di bawah pohon. Sebagai penganut Katolik, saya banyak berjumpa dengan Islam. Bila saya tidur di rumah keluarga Muslim, saya menangkap sinar mata, getar suara dan gurat senyum. Selalu saya merasa orang-orang Muslim sangat rindu dan berbahagia sebab di rumahnya ada orang Kristen makan, minum, mandi, tidur dan melakukan aktivitas layaknya di rumah sendiri.
Sebaliknya, saya rindu berjumpa sebanyak-banyaknya dengan Islam, sekadar untuk pulang membawa kabar baik, bahwa Islam dipenuhi orang-orang baik. Saya menemukan orang-orang sederhana di kampung, yang memperkenalkan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Islam cinta kasih, cinta damai, dan yang paling penting: Islam bukan teroris.
Saya berbahagia bahwa orang-orang tua dari kampung Islam, mempercayakan anaknya perempuan dan laki-laki datang di kampung saya, tinggal di rumah saya. Pada malam hari ketika saatnya mendirikan sholat isya, mereka bertanya: “Papa, kiblat di mana ya?” Saya lantas menunjuk arah kiblat, sambil menatap langit sekadar menyembunyikan air mata yang nyaris tumpah karena dipenuhi rasa haru.
Saya merasa pengalaman batin saya perlu juga dialami orang muda di Maluku. Maka melalui jurnalisme warga, aksi sosial, puisi, teater, music, film, apa saja, saya ikut mempertemukan bintang-bintang belia yang sebelumnya tidak saling berjumpa. Saya bersyukur, banyak orang muda membuka hati untuk perjumpaan, persentuhan, perhentian, dialog, permenungan, dan terbentuklah persepsi bersama, visi bersama, misi bersama, dan aksi bersama.
Maarif Award ini saya bawa pulang ke Maluku untuk dipersembahkan bagi semua orang yang telah berjuang merawat kehidupan, menumbuhkan kemanusiaan. Terima kasih Maarif Institute, ini adalah kali kedua Maluku menerima penghargaan ini.
Terima kasih Bapa Raja dan nyora-nyora, warga kampung-kampung di Maluku yang selalu menerima kehadiran saya dan komunitas-komunitas yang datang ke kampung. Salam, hormat dan terima kasih bagi basudara Muslim di Batumerah-Waringin-Waihaong-Pohon Mangga, Lata, Waiheru Kate-Kate, Wayame, Laha, Wakasihu, Larike, Asilulu, Negeri Lima, Seith, Kaitetu, Hila, Wakal, Hitu, Mamala, Morella, Liang, Tulehu, Tial, Tengah-Tengah, juga basudara Hatuhaha Ori Pelauw Kailolo, Siri-Sori Islam, Iha dan Kulur. Basudara Salam-Sarani di Malra, Malteng dan Malut. Katong semua basudara, laeng sayang laeng.
Terima kasih para mahasiswa Islam, dosen dan rektor di kampus hijau Universitas Darussalam dan IAIN Ambon. “Saya pernah memarahi mahasiswa yang tidak mendirikan sholat, mohon jangan simpan di hati, sebab saya masih akan marah-marah lagi”.
Terima kasih MUI Maluku dan para ustads, Ketua Sinode GPM dan para pendeta, Uskup dan para pastor. Saya kenal Islam Maluku dan Kristen Maluku karena para ulama sering memberi ruang pembelajaran melalui kata-kata dan tindakan yang penuh teladan.
Terima kasih Paparisa Ambon Bergerak, komunitas pecinta alam Maluku, komunitas teater, puisi, fotografi, music, film bahkan komunitas jalan-jalan. Terima kasih mama-mama penjual nasi kuning begadang, kafe-kafe yang memfasilitasi kaum muda, Taman Budaya Maluku, Universitas Pattimura, UKIM, Kantor Bahasa, para guru dan siswa dan media massa.
Saya harus menyebut nama anak-anak tercinta Ronal-Maxie dan barisan anak SD-SMP yang pernah masuk perang membela Kristen. Juga anak-anak terkasih Said-Iskandar dan barisan jihad cilik yang semasa SD-SMP masuk perang membela Islam. Badai telah berlalu. Kalian telah menemukan jalan pulang, dari pelaku konflik menjadi provokator damai. Terbayang saat paling manis, ketika kalian bertemu, berpelukan dan meleleh air mata. Maarif Award ini untuk kalian.
Akhirnya, beta mau cepat pulang ke Maluku, kembali ke laut biru pasir putih, pada pohon yang memiringkan badan. Beta perlu papeda lembut, ikan kuah kuning, colo-colo, sebab di meja makan itu, ada nikmat rempah-rempah. Kasih Allah yang rahman dan rahim melalui ina-ina, ama-ama, jujaro dan mongare selalu terasa di timur matahari.
Salam damai dari Timur Indonesia

Loading...