Kadang kok merasa bahwa kita sedang diadu terus. Atau meman kita sendiri yang menciptakan iklim permusuhan. Kadang merasa diadu dengan ses...
Kadang kok merasa bahwa kita sedang diadu terus. Atau meman kita sendiri yang menciptakan iklim permusuhan.
Kadang merasa diadu dengan sesama Muslim, karena beda pandangan atas satu kejadian atau beda aliran. Atau pula kita sendiri yang menciptakan iklim tidak kondusif ini.

Kadang juga merasa diadu dengan non muslim karena beda pandangan pula pada suatu permasalahan. Atau pula kita tidak bisa melewati suatu permasalahan dengan dewasa.
Perasaan dulu nggak gini-gini amat, ada nyepi di Bali, santai aja, ada natalan santai aja, ada puasa juga santai aja. Satu agama nggak terlalu mengomentari peribadatan agama lain, atau mazhab lain, atau bahkan mencampuri.
Nggak terlalu ribut kayak sekarang yang bikin ribet.
Semua hal dipermasalakan.
Kalau terus begini kayaknya bisa terjadi konflik horisontal, baik sesama muslim, ataupun dengan non muslim.
Dan tanpa sadar sebagian dari kita malah menjadi penggiat pengaduan di antara kita, terus apa hasilnya!
Padahal beda aliran, beda mazhab, beda keyakinan kalau menghadapinya dengan toleran, inysallah akan aman-aman saja.
Masih ingat banget ketika lek Arif Wijar yang beraliran salafy ke rumah lalu ke mesjid, dan shalat bareng dengan yang beraliran NU, fine fine aja.
Masing ingat juga sama Terong Tomi Cahyo P, yang beragama kristen, aku dianterin ke masjid dan ditungguin ampek selesai.
Masih juga ingat sama den Bagus Arya Wijayadi yang Hindu, aku ke rumahnya di sediain sajadah untuk shalat.
Demikian juga dengan pak Wayan Suasta, yang selalu sering sharing banyak info,padahal beliau ini agamanya Hindu.
Dan juga teman-teman lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.
Rasulullah aja dulu jug berhubungan baik lho dengan orang Yahudi dan Nasrani.
Kira-kira kita sedang diadu atau memang kita sendiri yang menciptakan iklim permusuhan ya mbah?
Re-post dari FB Muhsin Riyadi (blogger www.bonsaibiker.com)
Kadang merasa diadu dengan sesama Muslim, karena beda pandangan atas satu kejadian atau beda aliran. Atau pula kita sendiri yang menciptakan iklim tidak kondusif ini.

Kadang juga merasa diadu dengan non muslim karena beda pandangan pula pada suatu permasalahan. Atau pula kita tidak bisa melewati suatu permasalahan dengan dewasa.
Perasaan dulu nggak gini-gini amat, ada nyepi di Bali, santai aja, ada natalan santai aja, ada puasa juga santai aja. Satu agama nggak terlalu mengomentari peribadatan agama lain, atau mazhab lain, atau bahkan mencampuri.
Nggak terlalu ribut kayak sekarang yang bikin ribet.
Semua hal dipermasalakan.
Kalau terus begini kayaknya bisa terjadi konflik horisontal, baik sesama muslim, ataupun dengan non muslim.
Dan tanpa sadar sebagian dari kita malah menjadi penggiat pengaduan di antara kita, terus apa hasilnya!
Padahal beda aliran, beda mazhab, beda keyakinan kalau menghadapinya dengan toleran, inysallah akan aman-aman saja.
Masih ingat banget ketika lek Arif Wijar yang beraliran salafy ke rumah lalu ke mesjid, dan shalat bareng dengan yang beraliran NU, fine fine aja.
Masing ingat juga sama Terong Tomi Cahyo P, yang beragama kristen, aku dianterin ke masjid dan ditungguin ampek selesai.
Masih juga ingat sama den Bagus Arya Wijayadi yang Hindu, aku ke rumahnya di sediain sajadah untuk shalat.
Demikian juga dengan pak Wayan Suasta, yang selalu sering sharing banyak info,padahal beliau ini agamanya Hindu.
Dan juga teman-teman lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.
Rasulullah aja dulu jug berhubungan baik lho dengan orang Yahudi dan Nasrani.
Kira-kira kita sedang diadu atau memang kita sendiri yang menciptakan iklim permusuhan ya mbah?
Re-post dari FB Muhsin Riyadi (blogger www.bonsaibiker.com)
Loading...