#Takut Seorang Ip Man sekalipun mengakui bila dirinya begitu takut pada istrinya. Ia rela untuk tidak berlatih, bahkan urung memenuhi tanta...
#Takut
Seorang Ip Man sekalipun mengakui bila dirinya begitu takut pada istrinya. Ia rela untuk tidak berlatih, bahkan urung memenuhi tantangan duel dari musuhnya hanya demi menemani istrinya berobat. “Ah, jagoan kok cemen!” Tapi Itulah justru yang menjadikan Ip Man, ahli Wing Chun itu makin macho melebihi si Leher Beton, Mike Tyson. Dan Ip Man membuat satu pilihan.
Konon, istri menjadi begitu perkasa di hadapan suaminya, lantaran seorang istri telah mengandung anaknya dengan susah payah, melahirkan dengan taruhan nyawa, hingga tulus dalam membesarkan anaknya. Lalu, jerih payah suami dalam bekerja apakah tak ada nilainya? Sebentar dulu. Menilai kegigihan batin dengan hasil nominal uang jelas tidak ketemu. Membandingkan artis alay di tv-tv yang kerjanya main-main dengan penghasilan bukan main, tak bisa dibandingkan dengan para guru honorer yang pengabdiannya tidak main-main tapi penghasilannya main-main bahkan sering dimain-mainkan. Kita bisa melanjutkan dengan perbandingan para dai di tv yang bertarif selebriti dengan para kyai di kampung-kampung yang mengajar ngaji di pojok langgar tanpa imbalan, apalagi kontrak dari sponsor berharga tinggi.
Ini memang jaman penuh ketakutan. Jika Ip Man takut pada sosok yang ia hormati, jaman ini tidak jelas mengajarkan takut kepada apa. Tapi yang jelas, jaman ini adalah ketika saya takut dianggap miskin bin kismin. Jaman ketika saya iri lantaran sahabat dan kawan sudah bermobil dan berlayar kemana suka. Inilah jaman ketika saya minder ketemu orang yang mengendarai mobil bermerek dengan jas mahal beraroma wangi. Inilah jaman yang saya ciptakan betapa saya harus kaya raya supaya saya tidak diremehkan oleh siapa pun.
Tanpa sadar, cara berpikir saya yang penuh ketakutan ini, saya tularkan kepada anak saya. “Jadilah kamu anak yang pintar. Kalau pintar kamu mudah dapat kerja dengan gaji besar. Jika gajimu besar, kamu bisa beli apa saja, bahkan siapa saja.”
“Nak, lihatlah orang itu. Dia kaya raya. Di mana pun ia dihargai dan dihormati. Jadilah seperti dia. Apapun caranya. Bila perlu kamu mengemis dengan atas nama Agama dan Tuhan. Kamu boleh merampok murid-muridmu atas nama kenaikan level spiritual. Kamu boleh menakut-nakuti anak buahmu yang bodoh bahwa sedekah kepadamu adalah pintu kekayaan mereka. Jika mereka tak mau, jauhi mereka. Mereka bukan pendukung kekayaanmu.”
Gila. Aku meracuni anakku. Itu semua karena aku takut kepada jaman ini yang sedang mengagungkan kekayaan dan kemewahan. Aku pun lupa pesan mendiang ayahku, “Nak, tak penting kamu miskin atau kaya. Karena yang utama adalah akhlakmu kepada sesama manusia.”
Kepada Puisi Wihdah, selamat ulang tahun, anakku. Maafkan, bila aku memberi pesan kepadamu, "Jadilah Pemberani!"
Re-post dari FB Abdullah Wong

Seorang Ip Man sekalipun mengakui bila dirinya begitu takut pada istrinya. Ia rela untuk tidak berlatih, bahkan urung memenuhi tantangan duel dari musuhnya hanya demi menemani istrinya berobat. “Ah, jagoan kok cemen!” Tapi Itulah justru yang menjadikan Ip Man, ahli Wing Chun itu makin macho melebihi si Leher Beton, Mike Tyson. Dan Ip Man membuat satu pilihan.
Konon, istri menjadi begitu perkasa di hadapan suaminya, lantaran seorang istri telah mengandung anaknya dengan susah payah, melahirkan dengan taruhan nyawa, hingga tulus dalam membesarkan anaknya. Lalu, jerih payah suami dalam bekerja apakah tak ada nilainya? Sebentar dulu. Menilai kegigihan batin dengan hasil nominal uang jelas tidak ketemu. Membandingkan artis alay di tv-tv yang kerjanya main-main dengan penghasilan bukan main, tak bisa dibandingkan dengan para guru honorer yang pengabdiannya tidak main-main tapi penghasilannya main-main bahkan sering dimain-mainkan. Kita bisa melanjutkan dengan perbandingan para dai di tv yang bertarif selebriti dengan para kyai di kampung-kampung yang mengajar ngaji di pojok langgar tanpa imbalan, apalagi kontrak dari sponsor berharga tinggi.
Ini memang jaman penuh ketakutan. Jika Ip Man takut pada sosok yang ia hormati, jaman ini tidak jelas mengajarkan takut kepada apa. Tapi yang jelas, jaman ini adalah ketika saya takut dianggap miskin bin kismin. Jaman ketika saya iri lantaran sahabat dan kawan sudah bermobil dan berlayar kemana suka. Inilah jaman ketika saya minder ketemu orang yang mengendarai mobil bermerek dengan jas mahal beraroma wangi. Inilah jaman yang saya ciptakan betapa saya harus kaya raya supaya saya tidak diremehkan oleh siapa pun.
Tanpa sadar, cara berpikir saya yang penuh ketakutan ini, saya tularkan kepada anak saya. “Jadilah kamu anak yang pintar. Kalau pintar kamu mudah dapat kerja dengan gaji besar. Jika gajimu besar, kamu bisa beli apa saja, bahkan siapa saja.”
“Nak, lihatlah orang itu. Dia kaya raya. Di mana pun ia dihargai dan dihormati. Jadilah seperti dia. Apapun caranya. Bila perlu kamu mengemis dengan atas nama Agama dan Tuhan. Kamu boleh merampok murid-muridmu atas nama kenaikan level spiritual. Kamu boleh menakut-nakuti anak buahmu yang bodoh bahwa sedekah kepadamu adalah pintu kekayaan mereka. Jika mereka tak mau, jauhi mereka. Mereka bukan pendukung kekayaanmu.”
Gila. Aku meracuni anakku. Itu semua karena aku takut kepada jaman ini yang sedang mengagungkan kekayaan dan kemewahan. Aku pun lupa pesan mendiang ayahku, “Nak, tak penting kamu miskin atau kaya. Karena yang utama adalah akhlakmu kepada sesama manusia.”
Kepada Puisi Wihdah, selamat ulang tahun, anakku. Maafkan, bila aku memberi pesan kepadamu, "Jadilah Pemberani!"
Re-post dari FB Abdullah Wong

Loading...