Alih alih nongkrong diwarung kopi ngomongin Ahok yang berhasil meng-kalijodo-kan Kalijodo, dan para sosok opportunis yang gigit jari akhirny...
Alih alih nongkrong diwarung kopi ngomongin Ahok yang berhasil meng-kalijodo-kan Kalijodo, dan para sosok opportunis yang gigit jari akhirnya Ridwan Kamil gak jadi ke Jakarta, , kita malah asyik masyuk ngomongin kopi.

Ya kopi.... bagi kita ngopi itu gak sepahit ngomongin politik. Meski level kita ya baru sekedar icip icip kopi.Tapi kopi hitam (tanpa gula) malah seperti kopi manis jembatan ancol. Cantik, seksi, menggelora dan agak sedikit honor... eh horor.
Ngopi bagi kita bukan cuma nongkrong ora jelas, tapi udah semacam suatu proses pencarian rasa. Saya juga yang baru belajar icip icip kopi merasa aneh ketika teman saya dengan gaya-nya bak cupper professional menemukan ada rasa coklat didalam kopi yang ia minum.Weilahdalah.....
Ya rasa coklat, kopi kok rasanya coklat. Kadang istilah dont judge book by its cover masih jadi sebagian motto hidup kita semua. Kita selalu terkesima oleh sesuatu yang sifatnya seksi, menyembul didada, klimis, parlente, padahal sholat-nya cuma magrib yang lain kelaut. Orang cingkrang dibilang terroris, padahal Al-Pacino pake jas.
Loh apa hubungannya sama kopi ?
Sebenarnya ini cuma masalah nyambung menyambung jadi satu aj. Kopi mengajarkan kita jangan melihat sesuatu dari luar. Meski teman saya saking senangnya (sampai berteriak girang), karena bisa meng-identifikasi rasa buah didalam kopi yang dia minum. Pahitnya seperti alpukat yang dia beli dipasar.
Ngopi menjadi budaya identifikasi. @XVIICOFFEE pada akhirnya, bukan sekedar ngopi, ngobrolin bos, ngobrolin kerjaan, ngobrolin bini orang, ngobroli laki orang, ngobrolin ngalor ngidul tapi merupakan proses peng-kalibrasian indera pengecap yang telah lama hilang.
dan yang paling penting akhirnya, bagaimana Arsenal harus bisa mengalahkan Totenham Hotspurs agar bisa menjadi juara Liga inggris.....
...nanti diedit lagi... mau ngangkat jemuran
Re-post dari FB Teuku Ryansyah

Ya kopi.... bagi kita ngopi itu gak sepahit ngomongin politik. Meski level kita ya baru sekedar icip icip kopi.Tapi kopi hitam (tanpa gula) malah seperti kopi manis jembatan ancol. Cantik, seksi, menggelora dan agak sedikit honor... eh horor.
Ngopi bagi kita bukan cuma nongkrong ora jelas, tapi udah semacam suatu proses pencarian rasa. Saya juga yang baru belajar icip icip kopi merasa aneh ketika teman saya dengan gaya-nya bak cupper professional menemukan ada rasa coklat didalam kopi yang ia minum.Weilahdalah.....
Ya rasa coklat, kopi kok rasanya coklat. Kadang istilah dont judge book by its cover masih jadi sebagian motto hidup kita semua. Kita selalu terkesima oleh sesuatu yang sifatnya seksi, menyembul didada, klimis, parlente, padahal sholat-nya cuma magrib yang lain kelaut. Orang cingkrang dibilang terroris, padahal Al-Pacino pake jas.
Loh apa hubungannya sama kopi ?
Sebenarnya ini cuma masalah nyambung menyambung jadi satu aj. Kopi mengajarkan kita jangan melihat sesuatu dari luar. Meski teman saya saking senangnya (sampai berteriak girang), karena bisa meng-identifikasi rasa buah didalam kopi yang dia minum. Pahitnya seperti alpukat yang dia beli dipasar.
Ngopi menjadi budaya identifikasi. @XVIICOFFEE pada akhirnya, bukan sekedar ngopi, ngobrolin bos, ngobrolin kerjaan, ngobrolin bini orang, ngobroli laki orang, ngobrolin ngalor ngidul tapi merupakan proses peng-kalibrasian indera pengecap yang telah lama hilang.
dan yang paling penting akhirnya, bagaimana Arsenal harus bisa mengalahkan Totenham Hotspurs agar bisa menjadi juara Liga inggris.....
...nanti diedit lagi... mau ngangkat jemuran
Re-post dari FB Teuku Ryansyah
Loading...